Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomePes. AttahdzibyAug 22, 2009
PROFIL PONDOK PESANTREN ATTAHDZIBY
1. IDENTITAS PESANTREN :
Nomor Statistik : 042351902100
Nama : PESANTREN ATTAHDZIBI
Alamat : Desa SANGEN, Kec. GEGER, Kab. MADIUN, 63171, JATIM
No. Telepon : (0351) 466399
Website : www.suasana.multiply.com / attahdziby.multiply.com
Email : meliamail@yaho.co.id

Tahun Berdiri : 12 Robi’ul awal 1419 H / 05 Juni 1998 M
Tipe : SALAFIYAH
Pendiri : 1. K. MOH. BASHORI ALWY, 2. K. ZAINUDDIN TAMSIR, 3. K. MUHROZIN
Pembelajaran / Pelatihan : a. System Halaqah / Kajian kitab kuning;
b. Madrasah Diniyah Salafiyah Attahdzibiyah :
b.1. No. Statistik : 412351902019
b.2. : = Taman Pendidikan Qur-an (TPQ);
= Tingkat Ula : 3 tahun;
= Tingkat Wustha : 3 tahun;
= Tingkat Ulya : 3 tahun;
b.3. Pendidikan formal (bekerjasama dengan sekolahan-sekolahan sekitarnya);
c. Latihan ketrampilan elektro, menjahit, pertukangan, pertanian, perdagangan.

2. SUSUNAN PENGURUS
PENGURUS PESANTREN ATTAHDZIBI PERIODE 2009 – 2010 :
Penasihat : K. MOH. BASHORI ALWY;K. MUHROZIN, K. MOH. THOHARI
Pengasuh : K ZAINUDDIN TAMSIR
Ketua : ACHMAD KHOTIB AHSANI
Wakil Ketua : MUSLIH RIDLO
2.3. SARANA DAN PRASARANA
a. Masjid Jami’ : Bernama BAITUR ROHMAN
b. Asrama Putra : 2 lantai berukuran 12 kamar
c. Asrama Putri : 2 lantai berukuran 5 kamar
d. Ruang belajar : 8 lokal
e. Ruang laboratorium : 1 lokal
e. Kamar mandi/WC : 10 ruang
f. Dapur : 3 ruang
g. Peralatan : 1 unit komputer; 2 buah mesin jahit, alat-alat pertanian, alat-alat pertukangan, dll.


Blog EntrySep 13, '09 4:53 PM
for everyone
Silakan copy - paste dan print, lalu amalkan.

CARA PENGAMALAN

Pengamalan 40 hari :
  • Waktu pengamalan boleh pagi, sore, siang atau malam. Sehari semalamnya minimal satu kali majelis (satu kali khataman);
  • Duduk dengan tenang. Pusatkan hati kepada Allah SWT, beradab lahir-batin sebaik-baiknya, merasa / mengakui sejujurnya bahwa dirinya penuh dosa / kesalahan dan memerlukan ampunan Allah SWT. serta merasa berada di hadapan Baginda Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam (istihdlar) dengan ta'dhim (mengagungkan) sebaik-baiknya.
  • Baca surat Al-Fatihah 3 x atau 7 x (bagi yang bisa baca / tidak udzur);
  • Baca "YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOOH" selama minimal 30 menit, tanpa dihitung tapi dihayati dalam hati;
  • Diakhiri dengan bacaan surat al-Fatihah 1 x
  • Jika ada permohonan suatu hajat bisa disampaikan sebelum atau sesudah bacaan al-Fatihah, dengan bahasanya sendiri dengan khusyu' dan penuh keyakinan.
Pengamalan Bebas.
  • Dibaca kapanpun dan dimanapun berada kecuali ketika di kamar mandi / Wc / waktu qodloil-hajat;
  • Dibaca dengan lesan atau dalam hati;
Atau copy, paste, print lembar di bawah ini :

Catatan :
  • Boleh diamalkan oleh siapa saja tanpa pandang bulu;
  • Boleh diberikan kepada siapa saja tanpa pandang bulu;
  • Perlu konsoltasi tentang bacaan tersebut di atas bisa hubungi : 081331259111 (Bapak KH Moh. Ruhan Sanusi), 081555615514 (Bapak K. Sholihuddin Mahfudh Jazuli), 081553355377 (Bapak KH Ibnu Alwan), 085649933202 (Bpk K. Syamsul Huda), 081335577399 (Bpk K Zainuddin Tamsir).
Selamat Mengamalkannya dengan penuh keyakinan. Semoga Allah SWT segera memberikan apa hajat Anda terutama kejernihan hati, ketentraman batin, kedamaian keluarga dan Kesadaran kepada Allah SWT.


Blog EntrySep 13, '09 7:41 AM
for everyone

BUKTI TAWASUL NABI NUH KEPADA RASULULLAH Shollalloohu 'alaihi wasallam
 
  Pada bulan Juli 1951 sebuah tim yang terdiri dari ahli-ahli Rusia melakukan penelitian terhadap Lembah Kaat. Sepertinya mereka tertarik untuk menemukan sebuah tambang baru di daerah tersebut. Dalam penelitiannya mereka menemukan beberapa potong kayu di daerah tersebut berserakan.

Mereka kemudian mulai menggali tempat tersebut dengan tujuan untuk menemukan sesuatu yang berharga. Tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan kumpulan potongan-potongan kayu tertimbun di situ. Salah seorang ahli yang ikut serta memperkirakan, setelah meneliti beberapa lapisanya, bahwa kayu-kayu tersebut bukanlah kayu yang biasa, dan menyimpan rahasia yang sangat besar di dalamnya.

Mereka mengekskavasi tempat tersebut dengan penuh keingintahuan. Mereka menemukan cukup banyak potongan-potongan kayu di daerah penggalian tersebut, dan di samping itu mereka juga menemukan hal-hal lain yang sangat menarik. Mereka juga menemukan sepotong kayu panjang yang berbentuk persegi. Mereka sangatlah terkejut setelah mendapati bahwa potongan kayu yang berukuran 14 X 10 inchi tersebut ternyata kondisinya jauh lebih baik dibandingkan potongan-potongan kayu yang lain. Setelah waktu penelitian yang memakan waktu yang cukup lama, hingga akhir tahun 1952, mereka mengambil kesimpulan bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan dari bahtera Nabi Nuh a.s. yang terdampar di puncak Gunung Calff (Judy). Dan potongan (pelat) kayu tersebut, di mana terdapat beberapa ukiran dari huruf kuno, merupakan bagian dari bahtera tersebut.

Setelah terbukti bahwa potongan kayu tersebut merupakan potongan kayu dari bahtera Nabi Nuh a.s., timbullah pertanyaan tentang kalimat apakah yang tertera di potongan kayu tersebut. Sebuah dewan yang terdiri dari kalangan pakar dibentuk oleh Pemerintah Rusia di bawah Departemen Riset mereka untuk mencaritahu makna dari tulisan tersebut. Dewan tersebut memulai kerjanya pada tanggal 27 Februari 1953.
Berikut adalah nama-nama dari anggota dewan tersebut:
1. Prof. Solomon, Universitas Moskow
2. Prof. Ifa Han Kheeno, Lu Lu Han College, China
3. Mr. Mishaou Lu Farug, Pakar fosil
4. Mr. Taumol Goru, Pengajar Cafezud College
5. Prof. De Pakan, Institut Lenin
6. Mr. M. Ahmad Colad, Asosiasi Riset Zitcomen
7. Mayor Cottor, Stalin College

Kemudian ketujuh orang pakar ini setelah menghabiskan waktu selama delapan bulan akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa bahan kayu tersebut sama dengan bahan kayu yang digunakan untuk membangun bahtera Nabi Nuh a.s., dan bahwa Nabi Nuh a.s. telah meletakkan pelat kayu tersebut di kapalnya demi keselamatan dari bahtera tersebut dan untuk mendapatkan ridho Illahi.

Terletak di tengah-tengah dari pelat tersebut adalah sebuah gambar yang berbentuk telapak tangan dimana juga terukir beberapa kata dari bahasa Saamaani.
Mr. N.F. Max, Pakar Bahasa Kuno, dari Mancester, Inggris telah menerjemahkan kalimat yang tertera di pelat tersebut menjadi:
"Ya Allah, penolongku! Jagalah tanganku dengan kebaikan dan bimbingan dari dzatMu Yang Suci, yaitu Muhammad, Ali, Fatima, Shabbar dan Shabbir. Karena mereka adalah yang teragung dan termulia. Dunia ini diciptakan untuk mereka maka tolonglah aku demi nama mereka."

Semuanya sangatlah terkejut setelah mengetahui arti tulisan tersebut. Terutama yang membikin mereka sangatlah bingung adalah kenapa pelat kayu tersebut setelah lewat beberapa abad tetap dalam keadaan utuh dan tidak rusak sedikitpun.
Pelat kayu tersebut saat ini masih disimpan dengan rapih di Pusat Penelitian Fosil Moskow di Rusia.

Jika anda sekalian mempunyai waktu untuk mengunjungi Moskow, maka mampirlah di tempat tersebut, karena pelat kayu tersebut akan menguatkan keyakinan anda terhadap kedudukan Rosulullah Shollalloohu'alaihiwasallam dan Ahlul Bayt di sisi Allah SWT.

Terjemahan kalimat tersebut telah dipublikasikan antara lain di:
1. Weekly - Mirror, Inggris 28Desember 1953
2. Star of Britain, London, Manchester 23 Januari 1954
3. Manchester Sunlight, 23Januari 1954
4. London Weekly Mirror, 1Februari 1954
5. Bathraf Najaf, Iraq 2 Februari 1954
6. Al-Huda, Kairo 31 Maret 1954
7. Ellia - Light, Knowledge & Truth, Lahore 10 Juli 1969

Kiriman dari: firliana putri <firlianaputri@yahoo.com>
Judul: [sufi-islam] TAWASUL NABI NUH KEPADA RASULULLAH SAW

Sep 7, '09 2:53 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Murattal

Homepage » Quran » Mushaf recited by Aadel bin Salem AlKalbaany
Send to Friend

* Rewaya: Hafs from 'Aasem
* Mushaf type: Mourattal
* Visitors: 366910
* Last Update: 27 - 05 - 2009

Selengkapnya KUNJUNGI http://english.islamway.com/sindex.php?section=erecitorslist&iw_a=view&id=71


Blog EntrySep 7, '09 2:37 PM
for everyone

AL QADR
(KEMULIAAN)

SURAT KE 97 : 5 ayat

بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)5

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang


1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?  3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

KEMULIAAN LAILATUL QADR

Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman (yang artinya),

[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah,

[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS Ad Dukhoon: 3 - 6]

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan para ulama dalam masalah ini, lihatlah).

Imam Syafi’i berkata, “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, “Apakah kami mencarinya di malam hari?”, beliau menjawab, “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda, (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di (malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).

Ini menafsirkan sabdanya (yang artinya), “Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29, 27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima).” (HR Bukhari 4/232).

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum, sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.

Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari ppada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu a’lam.

Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan.”

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu, dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata, “Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku.” (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali).

Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari 4/233 dan Muslim 1174).

Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia berkata), “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).

4. Tanda-tandanya

Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan ruh dariNya dan membantu dengan pertolonganNya- sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.

Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang artinya), “Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”, syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata, “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)

Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan).

Dikutip dari Sifat Puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Penerbit Pustaka Al-Mubarok (PMR)

penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata.
Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.
Judul asli “Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan”
Bab “Malam Lailatul Qadar”
Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Penerbit Al Maktabah Al Islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H.

Edisi Indonesia

Sumber: www.salafy.or.id dikopas dari http://ghuroba.blogsome.com/2007/09/25/malam-lailatul-qadar/


Blog EntrySep 7, '09 1:59 PM
for everyone

Photo AlbumDo'a Permohonan segala hajatSep 6, '09 9:08 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Silakan Copy / print lembar do'a ini dan amalkan sesuai dengan petunjuk. Sebarluaskan kepada siapa saja. Tanpa pandang bulu.

Photo AlbumSholawat WahidiyahSep 3, '09 9:22 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
1. Bacaan Sholawat Wahidiyah (Silakan copy / print dan amalkan). 2. Keterangan Cara Pengamalan dan Bimbingan Prkatis. Silakan amalkan sesuai dengan petunjuk.


Photo AlbumKeluarga Pengasuh Pes. AttahdzibySep 1, '09 11:03 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
1. K. Moh. Tamsir (Ayah Pengasuh), 2. Ny. Khamsah Tamsir (Ibu Pengasuh), 3. Ahmad bin Abdullah (Kaka sepupu Pengasuh), 4. Ny. Saidatunni'mah (Istri dan anak-anak Pengasuh); 5. KH Abdul Khaliq (Kakak sepupu Pengasuh)

Blog EntryAug 31, '09 9:25 AM
for everyone

Allah berfirman:“Allah tiada menghendaki untuk menjadikan kesukaran ke atas kamu, akan tetapi Dia menghendaki untuk mensucikan kamu.” (al-Maidah:7)

Allah berfirman lagi: “Padanya ada orang-orang yang suka sekali bersuci dan Allah mencintai orang-orang yang bersuci itu.” (at-Taubah: 109)

 Bersabda Rasulullah s.a.w.:  “Kunci sembahyang adalah bersuci.”    “Agama itu didirikan atas kebersihan.”              

Orang-orang yang mempunyai pandangan yang jauh dapat mengambil kesimpulan dari keterangan-keterangan ini, bahawa perkara yang amat penting sekali ialah mensucikan kebatinan, kerana jauh sekali maksud dari Hadith berikut ini:“ Kesucian itu adalah setengah dari iman.”                        

Iaitu hanya untuk mensucikan kelahiran saja, yakni dengan menyirami tubuh dengan air dan mengalirkannya ke seluruh anggota badan, sedangkan kebatinannya tetap rosak dan ditinggalkannya terisi dengan anasir-anasir yang jahat dan kotor-kotoran. Alangkah jauh sekali ia boleh bermaksud demikian.

 

Taharah atau bersuci itu ada empat tingkatnya, iaitu:

  1. Mensucikan anggota-anggota lahir dari hadas-hadas (najis-najis), anasir-anasir kotor dan yang tidak perlu.

  2. Mensucikan anggota-anggota badan dari perbuatan-perbuatan salah dan dosa.

  3. Mensucikan hati dari akhlak yang terkeji dan kelakuan-kelakuan yang dibenci dan terkutuk.

  4. Mensucikan kebatinan dari tertumpu kepada semua perkara selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ini adalah cara bersucinya para Nabi Salawatullahi-alaihim dan juga para Siddiqin.

 Seseorang hamba tidak akan sampai ke tingkat yang tertinggi sekali, melainkan setelah melalui tingkat yang rendah terlebih dulu. Dia tidak akan sampai kepada tingkat mensucikan kebatinan dari sifat-sifat yang terkeji itu dan menggantikan tempatnya dengan sifat-sifat yang terpuji, selagi belum selesai membersihkan hati dari akhlak yang tercela dan menggantikan tempatnya dengan akhlak yang baik. Demikian pula ia tiada akan sampai ke tingkat ini, melainkan sesudah selesai dari mensucikan segala anggota-anggota badan dari larangan-larangan Allah dan menggantikan tempatnya dengan kerja-kerja ketaatan kepadaNya. 

 

Oleh sebab itulah, apabila yang dituntut itu bernilai dan mulia, tentulah lebih sukar dan susah untuk mencapainya, lebih banyak pula halangan-halangannya. Maka janganlah anda menyangka bahawa tingkat itu akan didapati dengan hanya bercita-cita saja, atau akan dicapai dengan cara yang mudah.

 

Akan tetapi bila seseorang itu buta mata hatinya dengan perbedaan tingkat-tingkat ini. Tentulah dia tidak akan mengerti akan tingkat taharah atau rahsia bresuci ini, melainkan tingkat yang terendah sekali, yang diumpamakan seperti kulit atas yang boleh dilihat jika dibandingkan dengan isi atau sari yang dicari. Maka oleh kerana itu, dia sentiasa mementingkan perhatiannya kepada kulit semata-mata  seraya menghabiskan semua waktunya pada membicarakan istinja’, membersihkan baju dan mensucikan anggota-anggota yang lahir saja, dan mengalirkan air yang banyak. Sebab dia menyangka, samada kerana waswasnya ataupun kerana khayalan fikirannya, bahawasanya kesucian yang dituntut atau yang betul itu mementingkan cara-cara ini.

 

Sebenarnya dia tiada mengetahui tentang perjalanan orang-orang yang terdahulu yang telah menumpukan segala perhatiannya dan fikirannya kepada perkara mensucikan hati tanpa mengendahkan perkara mensucikan yang lahir. Dia tiada mengetahui bahawa Saiyidina Umar r.a. dengan ketinggian kedudukannya itu pernah berwudhu’ dengan air yang tersimpan dalam kendi seorang Nasrani. Orang yang terdahulu itu juga sering bersembahyang di atas tanah dalam masjid. Ataupun memadai hanya dengan menggunakan batu sewaktu beristinja’.

 

Nyatalah kini bahawa segala yang diberatkan oleh mereka di masa itu ialah mensucikan kebatinan. Dan jarang-jarang sekali pernah timbul satu-satu pertanyaan dari mereka itu megenai hukum-hukum najis atau dari pertanyaan-pertanyaan yang titik-bengik.

 

Sekarang sudah sampailah giliran golongan manusia yang kononnya mengambil berat tentang kebersihan, maka dihabiskanlah semua masanya pada menghiaskan anggota-anggota lahir seperti sifatnya tukang andam yang menghiaskan pengantinnya, padahal kebatinannya busuk penuh dengan kotoran-kotoran, sifat-sifat sombong dan ujub (memuji diri), sifat-sifat kebodohan dan riya’ serta nifaq. Malangnya tiada seorang pun yang mengingkarkan atau memperhatikan perkara itu.

 

Akan tetapi kiranya seseorang itu hanya menggunakannya batu dalam istinja’nya, ataupun menunaikan sembahyangnya tanpa menggunakan sajadah (tikar sembahyang), ataupun mengambil wudhu’nya dari wadah yang dimiliki oleh orang kafir, maka akan tibalah kiamatnya. Orang-orang bodoh itu akan segera bertindak menyalahkan orang-orang itu dan memanggil mereka sebagai orang-orang yang kotor. Cubalah anda perhatikan bagaimana yang mungkar itu menjadi yang baik, dan yang baik pula menjadi mungkar. Dan lihat pula bagaimana orang ramai mempelajari dari agama itu hanya gambarnya saja, sepertimana mereka mempelajari hakikatnya dan ilmunya.

    

Kiranya anda telah maklum tentang muqaddimah ini, maka marilah kita berbicara kini tentang tingkat-tingkat taharah atau kesucian. Pertama sekali kita ambillah tingkatnya yang keempat, iaitu membersihkan anggota-anggota lahir. Kita katakan bahawa pensucian lahir itu ada tiga perkara: 

  1. Membersihkan diri dari benda-benda najis.

  2. Membersihkan diri dari hadas

  3. Membersihkan diri dari yang tidak diperlukan pada badan, dan yang ini dapat dilakukan dengan memotong (seperti memotong kuku, cukur bulu ari-ari dan sebagainya) dan mandi, menggunakan bedak, berkhitan dan lain-lain lagi.

 Mensucikan kotoran atau najis

 

Pembicaraan mengenai hal ini tergantung kepada tiga perkara, iaitu:

  1. Benda yang disucikan.

  2. Benda yang mensucikan.

  3. Cara mensucikan.

 Yang disucikan iaitu benda yang najis

 

Mata benda itu ada tiga: iaitu benda yang padat atau cair, binatang dan bahagian-bahagian dari binatang. Kesemua benda-benda padat atau cecairan dihukumkan suci kecuali khamar (arak) dan segala cecairan yang memabukkan. Dan kesemua binatang pula dihukumkan suci, kecuali anjing dan babi. 

 

Tetapi apabila binatang-binatang itu mati, maka hukumnya najis melainkan lima, iaitu: 

  1. Manusia

  2. Ikan

  3. Belalang

  4. Ulat buah-buahan atau seumpamanya yang terjadi dari makanan.

  5. Semua binatang yang tiada darah yang mengalir seperti lalat, lipas atau sebagainya, maka tiadalah air itu menjadi najis bila binatang-binatang serupa itu jatuh kedalamnya.

 Tentang bahagian-bahagian binatang ada dua macam: 

  1. Anggota yang terpotong dari binatang itu, maka hukumnya adalah hukum bangkai kecuali bulunya. Bulu binatang tiada menjadi najis samada matinya dengan sebab disembelih ataupun tidak tetapi tulangnya adalah najis bila matinya tidak disembelih.

  2. Benda basah yang keluar dari dalam badan binatang itu, maka mana-mana yang tidak mempunyai tempat yang tetap, maka hukumnya suci seperti air mata, keringat, air liur, hingus: dan mana-mana yang tempatnya tetap, maka hukumnya najis, melainkan apa yang asalnya berpunca dari binatang itu sendiri, seperti air mani dan telur. Adapun nanah, darah, tahi dan kencing dari binatang kesemuanya najis.

 Dan tiadalah dimaafkan najis-najis tersebut samada sedikit atau banyak, kecuali dalam lima perkara:

  1. Bekas tempat keluar najis (dubur) sesudah istinja’ yang menggunakan batu, dimaafkan kira najis yang keluar itu tiada melampaui tempat itu.

  2. Lumpur di jalanan ataupun debu dari kotoran tahi di tengah jalan, dimaafkan walaupun diyakini kenajisannya, yakni dengan syarat sukar untuk menjauhkan diri daripadanya, sehingga orang yang terkena lumpur atau debu itu tidak boleh dituduh cuai atau lalai.

  3. Najis-najis yang melekat di bawah khuf (sepatu yang ditentukan oleh syara’ boleh memakainya dalam sembahyang) yang biasanya semuanya jalanraya tidak sunyi daripadanya. Maka najisnya dapat dimaafkan sesudah dikikis semua najis-najis itu sewaktu hendak digunakan.

  4. Darah nyamuk, samada sedikit mahupun banyak, boleh dimaafkan kecuali jika ia melewati batas kebiasaannya, samada yang melekat di pakaian anda mahupun di pakaian orang lain yang anda memakainya.

  5. Darah kudis atau bisul atau apa-apa yang terpisah daripadanya seperti nanah, atau darah yang bercampur dengan nanah dimaafkan juga. Dalilnya, pernah Ibnu Umar r.a. menggosok bisul di mukanya, maka keluarlah daripadanya darah. Beliau terus bersembahyang tanpa membasuh darah itu terlebih dulu. Dalam pengertian yang lain ialah segala yang memancar dari kotoran-kotoran bisul yang biasanya keluar terus-menerus, begitu juga bekas-bekas luka dari bekam (atau pembedahan dan operasi) melainkan kalau yang terjadinya itu jarang-jarang sekali baik berupa luka atau lain-lainnya, maka hukumnya samalah seperti hukum darah istihadhah (darah yang keluar dari wanita yang menderita sakit), hukumnya tidak boleh dikira sama seperti darah yang keluar dari bisul, yang pada banyak hal manusia tiada berdaya untuk menahannya

Kelonggaran syara’ dalam memaafkan najis-najis yang lima macam itu menunjukkan bahawa perkara taharah atau bersuci itu diletakkan atas kemudahan dan keringanan, sehingga ia tiada meninggalkan tempat untuk berwaswas, yang mana waswas itu sebenarnya tiada berasal sama sekali.

 

Benda yang mensucikan

 

Benda yang mensucikan najis itu samada beku atau cair.

  1. Yang beku adalah batu yang digunakan untuk beristinja’ dan ia boleh mensucikan secara ringan saja, syaratnya mestilah benda itu keras, tahir (suci), boleh menghisap (tidak licin) dan bukan dari benda yang muhtaram.

  2. Yang cair pula, maka najis-najis itu tidak akan dapat disucikan melainkan dengan air saja. Dan airnya pula bukan sebarangan, melainkan air yang lahir (suci) yang tiada rosak percampurannya dengan sesuatu yang tiada diperlukan olehnya, dan air itu terkeluar dari takrif suci bila ia berubah rasanya atau warnanya atau baunya bila bercampur dengan benda najis. Tetapi kiranya ia tiada berubah rasanya atau warnanya atau baunya bila bercampur dengan benda najis, maka tiadalah dikirakan air itu sebagai najis,(* Menurut Mazhab Syafi’ : air itu mestilah dari dua qulah, jika kurang, hukumnya najis, samada berubah atau tidak) berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.: “Allah telah menjadikan air itu suci, tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu benda pun, melainkan kalau berubah rasanya atau warnanya atau baunya.” 

Cara mensucikannya

 

Najis itu samada dinamakan hukmiyah, iaitu bila tiada berjirim (tiada berbekas) yang boleh dirasa, maka hukumnya cukuplah dengan mengalirkan air di tempat yang dikatakan bernajis itu.

 

Ataupun dinamakan ‘ainiyah (kelihatan), maka wajibkan menghilangkan diri najis itu. Dan kalau ada juga bekas-bekas warna sesudah dikikis  dan dibasuh, maka hukumnya dimaafkan. Juga dimaafkan baunya kalau sukar untuk menghilangkan. Dan memeras sesuatu barang itu berkali-kali samalah seperti mengikis dan membasuhnya, kalau sesudah itu warnanya tidak hilang juga, hukumnya dimaafkan.

 

Bagi orang yang tabiatnya suka berwas-was, hendaklah ia menyakinkan dirinya, bahawa kesemua benda-benda itu asalnya dijadikan tahir atau suci. Oleh itu, jika ia tiada melihat dengan matanya sendiri pada sesuatu benda itu ada najis, dan tiada mengetahui dengan yakin ada najisnya, maka hendaklah ia bersembahyang saja dengannya.

 

Mensucikan hadast

 

Termasuk perkara mensucikan hadas itu ialah wudhu’, mandi (wajib) dan tayammum, dan sebelum itu didahulukan istinja’. Kini kita akan sebutkan cara-caranya, satu demi satu, secara teratur beserta adab-adabnya dan sunnat-sunnatnya.

 

Kita mulakan dengan sebab-sebab berwudhu’ dan adab-adab orang yang melepaskan hajatnya (buang air kecil dan besar). Insha Allah Ta’ala.

 

Adab melepaskan hajat

 

Seseorang yang ingin melepaskan hajatnya, hendaklah memilih tempat yang jauh dari pandangan orang ramai, seperti di tempat yang lapang. 

 

Hendaklah ia menutup (berlindung) dengan sesuatu benda kiranya boleh didapat. Dan jangan ia tergesa-gesa memuka auratnya, sebelum sampai ke tempat duduk untuk melepaskan hajat itu. Janganlah hendaknya ia menghadap kiblat atau membelakanginya ketika itu. Juga janganlah hendaknya ia melepaskan hajatnya ditempat-tempat biasanya orang ramai berkumpul kerana berbual-bual atau duduk-duduk berehat. Janganlah ia membuang air kecil pada air yang bertakung (tidak mengalir), atau di bawah pokok yang berbuah atau di lubang. Juga jangan di tempat yang keras, atau di tempat tiupan angin agar terpelihara dari percikan air kencing itu, dan hendaklah ia mengiring (dengan punggungnya bertenggong) kepada kaki kirinya.

 

Apabila ia ingin membuang air kecil di dalam bangunan (tandas), maka hendaklah ia mendahulukan kaki kiri ketika memasukinya dan kaki kanan ketika keluar. Jangan pula ia membawa bersamanya ketika itu sesuatu yang tertulis padanya Allah Ta’ala atau nama RasulNya s.a.w.

 

Ketika masuk ia membaca: “Dengan nama Allah saya berlindung denganNya dari gangguan syaitan, lelaki dan perempuan.”              

Ketika keluar ia membaca: “Segala kepujian bagi Allah yang telah menghapuskan dariku apa-apa yang boleh membahayakan aku, dan mengekalkan bagiku apa-apa yang boleh memberi manfaat kepadaku.”                

Sesudah selesai buang air sebaik-baiknya ia beristibra’ (mengetus) tiga kali, dan janganlah ia memikirkan terlalu banyak beristibra’ itu, agar ia tiada berwaswas sehingga perkara ini merumitkannya. Jika ia merasakan ada sedikit basah, hendaklah ia menganggap itu sisa dari air. Ketahuilah bahawa orang yang paling ringan istibranya dikira paling pandai dalam ilmu fiqhnya, sebab waswas itu menunjukkan ilmu fiqhnya cetek.

 

Antara perkara yang diringankan lagi, membolehkan seseorang itu membuang air kecil berdekatan dengan rakannya, tetapi mestilah ada tutup antaranya. Yang demikian itu pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri padahal baginda amat pemalu orang nya, tetapi itu adalah untuk mengajar orang ramai tentang kebolehan melakukannya.

 

Cara beristinja’

 

Sesudah membuang air atau melepaskan hajat itu dia pun beristinja’ dengan tiga butir batu. Selain batu boleh boleh juga digunakan segala benda yang kasar tetapi suci. 

 

Selanjutnya dia beristinja’ pula dengan air; iaitu dengan menyiram air dengan tangan kanan di tempat keluarnya najis itu, sedang tangan kirinya mengosok tempat itu sehingga tiada lagi yang tinggal dari bekas najis di situ. Ini dapat dirasakan oleh tapak tangan kiri yang menggosok tempat keluarnya najis tadi. 

 

Hendaklah ia tiada melampau pada mengorek atau meraba bahagian di dalam (dubur), kerana yang demikian itu akan menimbulkan waswas pada diri. Ketahuilah mana tempat yang tiada boleh sampai kepadanya air itu dikira bahagian dalam, sedangkan hukum najis itu tidak terlibat pada kotoran-kotoran di segala bahagian dalam, selama ianya tiada terlihat atau dihukumkan pada hukum lahir. 

 

Dan hukum najis itu hanya terkena pada bahagian-bahagian yang lahir saja, dan batasan pensuciannya ialah dengan menyampaikan air kepadanya dan menghilangkan najis itu dari situ. Dengan itu maka tidak perlu untuk ditimbulkan waswas lagi.

 

Cara berwudhu’

 

Sesudah selesai istinja’ dan hendak memasuki sembahyang, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dulu. 

 

Mula-mula bersiwak (gosok gigi), kemudian dia duduk kerana berwudhu’ sedangkan keadaannya menghadap ke kiblat, lalu membaca Bismillaahirrahmaanir-rahiim. Sesudah itu, dia membasuh pula kedua tangannya dahulu sebelum memasukkanya ke dalam bekas. Kemudian dia mengambil air itu di dalam mulutnya, kecuali jika ia sedang berpuasa. Kemudian mengambil secedok lagi untuk dimasukkannya ke dalam hidung untuk beristinsyaq tiga kali juga. Air itu hendaklah disedut hingga sampai ke dalam lubang hidungnya serta dikocak-kocaknya.

 

Selesai itu barulah dia mencedok secedok air lagi untuk membasuh mukanya, dan hendaklah dia membasuhnya dari hujung dataran dahi hingga ke hujung bahagian dari dagu memanjang; dan dari satu telinga ke telinga yang lain melebar pula, dan air itu mestilah sampai kepada keempat-empat tempat tumbuhan rambut; iaitu dua bulu kening, misai (kumis), bulu yang tumbuh di bawah bibir dan bulu mata, dam rambut-rambut itu biasanya tipis saja. 

 

Dan air itu mestilah sampai juga ke tempat tumbuhan janggut yang tipis. Kalau janggutnya lebat, maka memadailah air itu sampai ke bahagian lahirnya saja, tetapi sunnat disisirkannya dengan jari. Sunnat juga  jari-jarinya dimasukkan di bulatan mata untuk membersihkannya dari tahi mata atau lebihan celak.

Sesudah itu barulah dia membasuh kedua tangannya hingga kedua sikunya tiga kali. Dimulakan dengan yang kanan dulu. Jika memakai cincin, digerak-gerakkan cincin itu supaya air sampai di bawahnya.

 

Sesudah itu diratakan kepalanya dengan menyapu dengan kedua tangannya, setelah dibasahkan terlehih dulu dengan air. Caranya dengan mempertemukan hujung-hujung jari kanannya dengan hujung-hujung jari kiri, dan diletakkan kedua tangannya itu di muka kepala, lalu melalukan keduanya itu hingga ke belakang kepala.

 

Sesudah itu, disapu pula kedua telinganya di bahagian-bahagian luar dan dalam dengan cedokan air yang baru, kemudian dia menyapu pula tengkuknya dengan air yang baru juga.

 

Seterusnya, dibasuh pula kedua kakinya hingga ke bukulali serta disela-selakan antara jari-jari kaki.

 

Selesai melakukan itu semua, dia pun mengangkat kepalanya menadah ke langit seraya membaca: 

“Saya menyaksikan bahawa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah, dan menyaksikan sama bahawa sesungguhnya Muhammad itu hambaNya dan RasulNya. Wahai Tuhanku! Jadikanlah saya termasuk golongan orang yang bertaubat, dan jadikanlah saya termasuk golongan orang yang bersuci, dan jadikanlah saya termasuk golongan hambaMu yang sholeh.”

Yang makruh dalam berwudhu’

 

Di waktu berwudhu’ itu makruh melebihi dari tiga kali. Juga makruh berlebih-lebihan menggunakan air. Nabi s.a.w. ketika berwudhu’ hanya melakukan tiga-tiga kali saja, seraya bersabda: “Siapa yang melebihi (yakni lebih dari tiga kali), maka ia telah membuat salah dan menganiaya.”

Sabdanya lagi: “Akan datang suatu kaum dari ummat ini, suka melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam perkara berdoa dan bersuci.”

Ada dikatakan, bahawa antara kelemahan seseorang dalam ilmu agamanya, gemarnya membuang-buang air ketika bersuci. Makruh juga merenjis-renjiskan tangan sehingga air terpercik daripadanya, ataupun menampar-nampar muka dengan air.

 

Maksud bersuci

 

Sesudah selesai dari berwudhu’ dan hendak memulakan sembahyang, hendaklah ia menyakinkan di dalam hatinya, bahawasanya ia telah bersuci segala anggota lahirnya; iaitu tempat pandangan orang ramai kepadanya. 

 

Sepatutnya dia juga harus merasa malu kalau hendak bermunajat kepada Allah Ta’ala tanpa terlebih dulu membersihkan hatinya, iaitu tempat pandangan Allah s.w.t. Sayugialah hendaknya ia merasa yakin bahawa kesucian hatinya dengan bertaubat kepada Allah s.w.t. dan menjauhkan diri dari segala akhlak yang terkeji serta berkelakuan dengan akhlak yang terpuji itu, adalah lebih utama dari hanya mensucikan anggota yang lahir saja. 

 

Perumpamaanya sama seperti seorang yang ingin mengundang seorang raja ke rumahnya, lalu dibiarkan dalam rumah itu penuh dengan kotoran, padahal pintu rumah itu dibersihkan dan dicat baik-baik. Bukankah yang demikian itu akan mendedahkan dirinya kepada kemurkaan raja, dan menyebabkan dia menerima balasan daripadanya.

 

Cara mandi wajib

 

Mula-mula ia membasuh kedua belah tangan tiga kali, kemudian beristinja’ dan menghilangkan segala macam kenajisan yang ada pada badan, kalau memang ada. Sesudah itu, barulah ia berwudhu’ kerana mahu bersembahyang, sebagaimana yang telah kita huraikan sebelum ini, kecuali membasuh kedua belah kaki, maka hendaklah ia menangguhkannya dahulu.

 

Kemudian mulalah ia menyirami badan dengan air, bermula dari kepala, kemudian bahagian kanan, kemudian bahagian kiri pula.

 

Selesai menyirami air, ia pun menggosok bahagian hadapan dari badan, kemudian bahagian belakang pula. Dan hendaklah ia menyela-nyela rambut yang di atas kepala, begitu juga dengan janggut, supaya air itu sampai ke pangkal tempat tumbuhnya rambut-rambut itu, samada rambut-rambut itu lebat mahupun tipis.

 

Seorang perempuan yang mandi wajib tidak perlu menghuraikan siputnya, kecuali kalau ia bimbang air tidak akan sampai ke celah-celah rambut, dan hendaklah ia memelihara pula lipatan badannya (agar air dapat meratai seluruh badannya).

 

Mandi itu menjadi wajib dengan empat perkara:-

  1. Kerana keluar air mani.

  2. Kerana persetubuhan.

  3. Kerana haidh.

  4. Kerana nifas.

 Selain dari mandi-mandi tersebut di atas itu adalah sunnat hukumnya, seperti mandi kerana dua hariraya, kerana hadir sembahyang Jum’at, kerana berihram, kerana wuquf di Arafah, kerana masuk negeri Makkah dan bagi orang yang memandikan orang mati.

 

Cara bertayammum

 

Barangsiapa yang uzur tidak dapat menggunakan air kerana ketiadaannya; samada setelah berusaha mencarinya tetapi tidak dapat, ataupun kerana adanya halangan untuk sampai ke tempat air seperti binatang buas, ataupun ada orang yang menahannya untuk pergi ke tempat air, ataupun air itu ada tetapi hendak digunakan untuk minumannya sendiri atau minuman hambanya, ataupun air itu kepunyaan orang lain, sedangkan orang yang mempunyai air itu tiada ingin menjualnya melainkan dengan harga yang lebih mahal dari harga biasanya, ataupun pada anggotanya ada luka-luka atau ada semacam penyakit yang kalau digunakan air pada anggota itu nescaya akan bertambah penyakitnya atau rosak, maka hukumnya hendaklah ia menunggu sehingga masuknya waktu sembahyang.

 

Sesudah tiba  waktu sembahyang, barulah dia mencari debu yang bersih dari tanah yang suci. Bertayammum ialah menepuk kedua belah tapak tangan dengan semua jari-jarinya rapat antara satu dengan yang lain, lalu menyapukan kedua belah tapak tangan yang berdebu itu keseluruh wajahnya sekali saja. Jangan dipaksakan sangat agar debu itu sampai ke dalam sela-sela rambut, sama ada rambutnya tebal atau nipis.

 

Kemudian hendaklah menanggalkan cincin (kalau bercincin) dan menepuk sekali lagi, sedangkan jari-jari tangan direnggangkan pula, dan menyapukan tangan kanan dengan tapak tangan kiri dan menyapukan pula tangan kiri dengan tapak tangan kanan.

 

Dengan satu tayammum, ia boleh bersembahyang satu sembahyang fardhu saja, manakala sembahyang sunnat boleh dilakukan sebanyak yang diperlukan. Kalau mahu melakukan sembahyang fardhu yang lain, hendaklah ia bertayammum sekali lagi.

 

Kebersihan dari kelebihan-kelebihan yang tahir

 

Ada dua jenis yang harus dibersihkan iaitu; Jenis-jenis kotoran di badan dan najis-najis kelebihannya.

 

Jenis-jenis kotoran di badan

 

Adapun jenis-jenis kotoran atau benda basah yang melekat di badan iaitu delapan:

  1. Apa-apa yang berkumpul dari kotoran-kotoran di rambut kepala seperti daki dan kutu. Membersihkan ini semua adalah digalakkan oleh syara’, iaitu dengan mandi dan menyisir kemudian memakai minyak rambut, sehingga hilang semua kotoran itu dan nampak bersih. Rasulullah s.a.w. sendiri sering meminyaki di rambutnya dan menyisirnya, dan demikianlah baginda mengajar ummatnya supaya melakukan itu.

  2. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran di lubang telinga, hendaklah dibersihkan 

  3. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di dalam lubang hidung, yang boleh dibersihkan dengan menyedut air ke dalamnya dan mengocak-ngocakkannya.

  4. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di gigi dan di hujung lidah, boleh membersihkannya dengan bersiwak atau menggosok gigi kemudian berkumur-kumur.

  5. Apa-apa yang terkumpul dari kotoran-kotoran di janggut, seperti debu-debu atau kutu, yang boleh dibersihkan dengan mandi dan menyisirnya dengan sisir (sikat). Adapun membiarkan janggut secara tidak teratur untuk menunjukkan zuhud, ataupun tidak mengambil berat tentang urusan diri adalah dilarang oleh syara’. Meninggalkan cara-cara serupa ini kepada perkara-perkara yang serupa ini adalah perkara-perkara kebatinan antara seorang hamba dengan Tuhannya Azzawajalla. Ketahuilah olehmu bahawa Allah s.w.t. mengetahui akan tujuan hati orang itu, dan mengelirukan keadaan tidak ada faedahnya sama sekali.

  6. Kotoran-kotoran yang terkumpul di celah-celah jari. Orang-orang Arab dahulukala tidak biasa membersihkannya, kerana mereka jarang sekali membasuh tangan selepas makan. Oleh itu, sering pulalah berkumpul bekas-bekas makanan itu dicelah-celah jari, maka Rasulullah s.a.w. memerintahkan supaya membasuh celah-celah jari itu.

  7. Membersihkan hujung-hujung jari dari kotoran-kotoran. Rasulullah s.a.w. pernah menyuruh ummatnya untuk membersihkan hujung-hujung jari dari kotoran-kotoran yang yang ada di dalam kuku, sebab terkadang-kadang bila dipotong kuku masih tertinggal sebahagian kotoran di situ, maka hendaklah dibersihkannya.

  8. Daki-daki yang terkumpul di merata badan, tersebab oleh peluh atau debu-debu yang  melekat di situ. Membersihkannya ialah dengan mandi dan menggosoknya.

 Tata-tertib dalam bilik mandi

 

Tidak salah bermandi di tempat-tempat mandi umum (kolam renang) asalkan menjaga tata-tertibnya. Sahabat-sahabat Rasulullah pernah bermandi di tempat-tempat mandi umum di negeri Syam. 

 

Ada pepatah yang berkata: Sebaik-baik tempat ialah tempat mandi. Ia membersihkan badan dan mengingatkan tentang api neraka. Kata-kata ini diriwayatkan dari Abu Darda’ dan Abu Ayub al-Anshari r.a. Ada yang lain berkata pula: Seburuk-buruk tempat ialah tempat mandi di mana para pemandinya mendedahkan aurat dan orang ramai sudah kehilangan malu. 

 

Perbedaan di antara dua tempat mandi ini, ialah yang pertama mendedahkan bagi kita faedahnya yang kedua pula mendedahkan bencananya. Tidak mengapalah kita mengambil faedah dari tempat mandi itu, dalam pada itu jangan sampai kita tercebur kepada bencananya pula.

 

Selain dari itu, atas orang yang menggunakan tempat mandi itu adalah pula tugas-tugasnya dari perkara-perkara yang disunnatkan dan yang diwajibkan. Ada dua kewajiban atas pengguna tempat mandi umum untuk memelihara auratnya dan dua kewajiban yang lain untuk memelihara aurat orang lain.

 

Dua kewajiban untuk memelihara auratnya ialah, menjaga agar auratnya jangan sampai ternampak oleh orang lain dan menjaganya juga dari disentuh oleh mereka. Jangan sampai dibiarkan diperlakukan sesuatu ke atasnya, atau dibersihkankan kotoran daripadanya melainkan dia yang melakukannya sendiri. Kalau ada orang yang membantu menggosok, maka jangan sampai dibenarkan menyentuh bahagian paha dan bahagaian  diatasnya hingga ke pusat.

 

Dua kewajiban untuk melihara aurat orang lain, ialah menutup mata dari memandangnya seraya melarang orang itu dari mendedahkan auratnya, sebab melarang orang dari mendedahkan auratnya adalah wajib hukumnya. Ia wajib mengingatkan orang itu, tetapi bagi orang yang diingatkan itu tidak wajib menurut pula.

 

Adapun perkara sunnatnya, di antaranya ialah niat. Maka janganlah hendaknya ia masuk ke tempat mandi kerana sesuatu maksud dunia , atau untuk bermain-main atau suka-suka saja, akan tetapi hendaklah ia meniatkan bersuci yang dituntut oleh agama, kerana menyediakan untuk bersembahyang.

 

Hendaklah ia masuk dengan kaki kiri, dan janganlah ia tergesa-gesa masuk ke dalam tempat mandi yang panas, melainkan sesudah ia keluar peluh pada tempat mandi yang pertama. Jangan banyak membuang (membazir) air, malah wajib ia mengambil air sekadar hajat saja, sebab itulah yang diizinkan kepadanya kalau hendak diperhitungkan. Mengambil air lebih dari yang dihajati akan menyebabkan penjagaan tempat mandi itu tidak rela, kiranya ia mengetahui, terutama sekali dari air panas. Sebab perbelanjaannya tentulah besar dan menggunakan lebih dari yang diperlukan akan menyusahkan pemilik tempat mandi itu.

 

Dan hendaklah ia mengingat pula betapa panasnya api neraka itu kelak kalau dibandingkan dengan panasnya air tempat mandi itu. Dianggapnya pula dirinya seolah-olah sedang dalam penjara yang berhawa panas ketika itu, kemudian diperbandingkan juga dengan Neraka Jahannam yang kira-kira sama tempat itu dengan tempat di Jahannam, yakni api dari bawahnya dan gelap-gelita dari atasnya na’uzu billahi min zalik (kita berlindung kepada Allah dari keadaan itu).

 

Tidak menjadi salah untuk berjabat tangan dengan rakan yang baru masuk ke tempat itu atau berkata: Tuhan memberikan kepadamu afiat. Boleh dibiarkan badannya digosok oleh orang lain, begitu juga belakangnya dan tangan serta kakinya dipicit-picit oleh orang lain juga.

 

Sebaik-baik saja dia keluar dari tempat mandi itu, segeralah dia mengucap syukur kepada Allah s.w.t. atas nikmat yang baru dikecapnya tadi, sesudah itu jangan pula disiram kepalanya dengan air sejuk ketika hendak keluar atau meminum air sejuk, kerana yang demikian itu bertentangan dengan peraturan kesihatan.

 

Orang-orang perempuan, makruh pergi ke tempat-tempat mandi, melainkan kerana sesuatu dharurat, dan itu pun dengan menjaga tutup badan dengan rapi.

 

Jenis-jenis kelebihan di badan

 

 Adapun jenis-jenis kelebihan atau yang tumbuh di badan itu ada delapan macam: 

  1. Rambut kepala: Boleh dicukur botak bagi orang yang menginginkan kebersihan kepalanya dan boleh juga dipendekkan, tetapi dengan memakai minyak dan menyikatnya secara teratur.

  2. Misai: Disunnatkan memotong misai yang panjang melebihi bibir dan boleh membiarkan hujung-hujungnya melebar ke kanan atau ke kiri.

  3. Bulu ketiak: Disunnatkan membuangnya paling kurang setiap 40 hari sekali, atau lebih awal lagi dari itu.

  4. Bulu kemaluan: Disunnatkan membuangnya dengan dicukur, atau dengan kapur paling kurang setiap 40 hari sekali, ataupun lebih cepat lagi dari itu.

  5. Kuku: Memotongnya adalah sunnat disebabkan memang hodoh sekali kelihatannya bila terlalu panjang, tambahan pula akan banyak sekali kotoran yang terkumpul padanya. Dalam cara memotong kuku tidak ada riwayat yang sahih dari Nabi s.a.w.

  6. Kelebihan pada pusat: Tali pusat hendaklah dipotong ketika bayi dilahirkan.

  7. Kulit yang menutupi kemaluan: Membersihkannya adalah dengan berkhitan pada hari ketujuh dari hari lahirnya. Tetapi kalau dikuatiri akan berlaku bahaya, tidak mengapa jika ditunda.

  8. Janggut yang panjang: Diriwayatkan dari setengah para sahabat dan tabi’in, yang panjang itu adalah lebih dari cekakan tangan, maka hendaklah dipotong. Setengah yang lain berkata pula: Membiarkan janggut panjang lebih baik. Perkara ini terserahlah kepada diri orang itu sendiri, asalkan tidak terlalu panjang sekali sehingga menghodohkan rupa dan muka, kelak orang ramai akan memandang jijik kepadanya dan mencelanya. Oleh itu, hendaklah ia berjaga-jaga jangan sampai berlaku keadaan yang serupa itu. 

Mengenai janggut, ada sepuluh perkara yang dimakruhkan dan sebahagian darinya lebih makhruh dari yang lain: 

  1. Mewarnakannya hitam, atau 

  2. Memutihkannya dengan kapur, 

  3. Mencabutnya, atau 

  4. Mencabut rambut-rambutnya yang putih, 

  5. Mengurangi atau menambahnya, 

  6. Menyikatnya dengan cara menunjuk-nunjuk kerana tujuan riya', atau 

  7. Meninggalkannya bercelaru kononnya kerana kezuhudan, 

  8. Terpengaruh dengan kehitamannya kerana menganggap diri masih muda, atau 

  9. Terpengaruh dengan keputihannya kerana membesarkan diri, sebab sudah tua, dan 

  10. Mewarnakannya merah tanpa sebab, hanya kerana berangan-angan hendak menjadi orang saleh.

Adapun mewarnakannya hitam, ada diriwayatkan larangan kerananya, sebab yang demikian itu akan menarik orang itu kepada kemegahan diri, ataupun pengeliruan orang ramai. Manakala mewarnakannya putih dengan kapur, mungkin kerana hendak menunjukkan kepada orang ramai bahawa umurnya telah meningkat tua untuk tujuan meninggikan diri atas orang-orang muda, ataupun untuk menunjuk-nunjuk dirinya banyak ilmu, kerana mungkin disangkakannya kelebihan umur itu akan menghasilkan kelebihan kedudukanya, alangkah batilnya pandangan serupa itu! Kerana kelebihan umur itu tidak akan menambahkan si jahil melainkan kejahilan juga. Hanya ilmu pengatahuan sajalah yang boleh menjadi buah dan akal fikiran, dan ia pula adalah suatu bakat yang dikurnakan oleh Tuhan, manakala umur tua itu tidak akan meninggalkan apa-apa kesan kepadanya. Orang yang sifatnya jahil atau kurang akal, maka sepanjang umurnya ia akan hidup menunjukkan kejahilannya atau kekurangan akalnya. Orang-orang tua dahulu kala sentiasa menonjolkan anak-anak muda kerana ilmu pengatahuannya.

 

Khalifah Umar Ibnul-Khattab r.a. pernah mengemukakan bnu Abbas dalam majlis para sahabat yang tua-tua, sedangkan Ibnu Abbas ketika itu masih muda lagi. Mereka pun bertanya kepada akan hal-ehwal agama mereka.

 

Berkata Ibnu Abbas r.a.: Allah Azzawajalla tiada mengurniakan seseorang hambaNya sesuatu ilmu, melainkan sewaktu masih mudanya dan kebaikan itu tetap ada pada usia muda, kemudian beliau membacakan firman Allah yang berbunyi: “Mereka mengatakan bahawa kami mendengar ada seorang anak muda yang menyebut-nyebutkan mereka dan anak muda itu dipanggil Ibrahim.”   (al-Anbia’:60)

Dan firman Allah lagi: “Mereka itu adalah anak-anak muda yang beriman dengan Tuhan mereka, lalu Kami (Allah) pun menambahkan bagi mereka hidayat.”   (al-Kahf: 13)

Dan firmanNya lagi: “Dan Kami (Allah) memberikan kepadanya kebijaksanaan, ketika ia masih kecil."    (Maryam: 12)

Berkata Ayub as-Sakhtiani: Pernah aku terjumpa seorang tua yang berumur 80 tahun sedang mempelajari sesuatu dari seorang anak kecil.  

Pernah Abu  Amru Ibnul-Ala’ ditanya: Maniskah seorang yang sudah tua belajar dari seorang anak kecil? Abu Amru menjawab: Kiranya kejahilan itu akan menampakkan seseorang itu bodoh di muka ramai, maka pelajaran pula akan menampakkan ia elok di hadapan mereka.


Dikutib dan diterjemahkan dari kitab "Mau'idhotil Mukminiin" Ringkasan kitab Ihya Al-Ghazali>


Blog EntryAug 31, '09 9:14 AM
for everyone

Allah s.w.t. telah mengurniakan ke atas hamba-hambaNya dengan mengutuskan NabiNya (Muhammad s.a.w.) dan menurunkan kitaNya (al-Quran) yang tiada didatangi kebatilan dari hadapan atau dari belakang, sehingga terbentang luas bagi para ahli fikir jalan mengambil I’tibar atau contoh tauladan daripadanya; iaitu dikeranakan ianya mengandungi banyak cerita dan berita. Dengan adanya al-Quran, nyata dan teranglah bagi ummat manusia jalan kukuh yang harus ditujui dan titian lurus yang harus dilalui, kerana di dalam al-Quran itu terdapat berbagai-bagai hukum yang memperbedakan di antara yang halal dengan yang haram. Al-Quran itu laksana cahaya yang menerangkan yang aman dengannya manusia akan terselamat daripada kemegahan diri, dan sebagai penawar yang mengubati segala jenis penyakit yang bersaarang di dalam hati. Barangsiapa berpegang teguh dengan al-Quran, niscaya ia akan terbimbing untuk mendapat petunjuk dan barangsiapa mengamalkan kandungannya niscaya ia akan berjaya dan bahagia.

 

Berfirman Allah di dalam al-Quran: “Sesungguhnya Kami (Allah) menurunkan peringatan (al-Quran) dan Kami pasti memeliharanya.” (al-Hijr. 9)

Di antara sebab-sebab yang menentukan terpeliharanya al-Quran di dalam hati sanubari dan di dalam mashaf-mashaf, ialah mengamalkan pembacaannya selalu dan mendalami maksud-maksudnya terus-menerus dengan memerhatikan adab-adab dan syarat-syaratnya, kemudian menurut segala arahan yang terkandung di dalamnya tentang amalan-amalan kebatinan dan tata kesopanan yang lahir. Yang demikian itu amatlah penting sekali untuk diterangkan dan diperincikan.

 

Keutamaan al-Quran dan pembacanya

  Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Barangsiapa membaca al-Quran kemudian ia merasakan ada orang lain yang dikurniakan keutamaan melebihi apa yang telah di kurniakan Allah kepadanya, maka sebenarnya ia telah memperkecilkan sesuatu yang telah dibesarkan oleh Allah Ta’ala.”

Sabdanya yang lain:“Seutama-utama ibadat ummatku, ialah membaca al-Quran.”

 Sabdanya lagi: “Sebaik-baik kamu ialah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya pula.”

 Ibn Mas’ud telah berkata: Sekiranya anda inginkan ilmu pengetahuan, maka pelajarilah al-Quran, kerana sesungguhnya al-Quran itu mengandungi ilmu-ilmu para ahli yang terdahulu dan yang terkemudian.

 

Berkata amru Ibnul-‘As: Barangsiapa membaca al-Quran, maka sebenarnya telah berada di sampingnya darjat kenabian, hanya dia tiada dituruni wahyu saja.

 

Selanjutnya ada sebuah Hadis dari Rasulullah s.a.w. yang mencela orang-orang membaca al-Quran, padahal mereka lalai untuk melaksanakan pengajarannya, sabdanya: “Tiada dikira beriman dengan al-Quran orang yang menghalalkan segala larang-larangannya.”

 Sabdanya lagi: “Bacalah al-Quran selagi ia dapat menegahmu (dari melakukan perkara-perkara yang dilarangnya) maka sekiranya ia tiada dapat menegahmu berertilah engkau belum membacanya.”

Anas pula berkata: Sungguh banyak sekali orang yang membaca al-Quran, sedangkan al-Quran malaknatinya.

 

Berkata Ibnu Mas’ud Al-Quran itu diturunkan untuk diamalkan segala ajarannya, maka hendaklah kamu menjadikan pengajarannya sebagai amalan-amalan yang dibuat sehari-hari. Sesungguhnya ada orang di antara kamu yang membaca al-Quran dari awal hingga ke akhirnya, tiada sehuruf pun yang ditinggalkannya, tetapi dia meninggalkan untuk beramalan dengannya.

 

Setengah ulama berkata: Sesungguhnya seorang hamba itu akan membaca Al-Quran, dan ia akan melaknati dirinya, sedang ia tidak sedar akan kelakuannya; iaitu bila dia membaca: alaa la’na tullaahi ‘alazh-zhaalimin (Awas! Laknat Allah ditimpakan ke atas orang-orang yang zalim), padahal orang itu berlaku zalim terhadap manusia. Ataupun dia membaca: alaa la’natullaahi ‘alal-kaazibiin (Awas! Laknat Allah ditimpakan ke atas orang-orang yang berdusta), padahal dia selalu berdusta.

 

Tertib lahiriah dalam membaca al-Quran

 

Dalam membaca al-Quran ada beberapa hal yang harus diperhatikan iaitu:

 

Pertama: Hendaklah ia berada dalam keadaan berwudhu’ terus menerus dengan penuh adab dan tenang. Dia boleh membaca secara berdiri ataupun duduk, tetapi sebaik-baiknya menghadap kiblat, menundukkan kepala, tidak duduk secara bersilang kaki, tidak bersandar ataupun duduk seperti duduknya orang-orang yang sombong (takabbur). Kiranya ia membaca al-Quran tanpa berwudhu’, atau dalam keadaan berbaring di atas tempat tidur tidak ada salahnya hanya pahalanya kurang.

 

Allah telah berfirman: “Iaitu mereka yang mengingati Allah (berzikir) dalam keadaan berdiri dan duduk dan ketika berbaring serta memikirkan tentang kejadian petala langit dan bumi.”  (al-Imran: 191)

Allah s.w.t. telah memuji mereka mengingati Allah dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, bermula dengan orang yang berzikir dalam keadaan berdiri, kemudian yang dalam keadaan duduk dan seterusnya dalam keadaan berbaring.


Dikutib dan diterjemahkan dari kitab "Mau'idhotil Mikminiin" Ringkasan dari kitab Ihya Al-Ghozali.






Segala amal perbuatan apa saja, baik yang berhubungan langsung kepada Alloh dan Rosul-NYA, Shollalloohu 'alaihi wasallam maupun yang berhubungan dengan masyarakat, dengan sesama makhluq pada umumnya, baik yang wajib, yang sunnah maupun yang wenang, asal bukan perbuatan yang merugikan / bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, melaksanakannya supaya didasari niat dan tujuan hanya mengabdikan diri kepada Alloh Tuhan Yang Maha Esa dengan IKHLAS tanpa pamrih ! (LILLAHI TA’ALA).

Penerapan “LILLAH” umumnya ulama’ dan ummat Islam menyebutnya “IKHLASH”. Jika dua kalimat tersebut disatukan menjadi “Ikhlas Lillah”. Umumnya Ulama dan masyarakat umum mengambil kalimat yang depan yakni IKHLAS dan istilah dalam Wahidiyah mengambil yang belakang, yakni “LILLAH” dengan maksud agar lebih mengarah kepada tujuan yang pokok. Karena kalimat ikhlas sudah tercampur dengan pengertian “rela” atau “senang”. Seperti ucapan “saya ikhlas memberikan sesuatu kepada kekasihku”. Ucapan ini belum pasti didasari tujuan semata-mata karena ALLAH (LILLAHI TA'ALA). Kemungkinan besar karena kepada kekasihnya dia rela memberikan sesuatu. Berarti pemberiannya itu karena kekasih (Lil-kekasih) belum karena ALLAH (LILLH). Akan tetapi jika ucapannya “saya memberi seseuatu kepada kekasihku dengan LILLAH", berarti pemberiannya itu didasari ikhlas karena ALLAH (LILLAH). Selain itu dengan ucapan LILLAH sekaligus berdzikir kepada ALLOH.

Di kalangan masyarakat sering terjadi pengartian ikhlas yang salah kaprah. Misalnya ; ikhlas adalah “ketika seseorang melakukan amal ibadah dan setelah itu dia melupakannya seakan-akan tidak pernah beramal”. Dicontohkan seperti orang mengeluarkan ludah, Setelah itu dia tak pernah berangan-angan / tidak merasa kehilangan ludah. Penerapan seperti ini belum mengarah kepada tujuan ibadah karena ALLAH (belum LILLAH); Masih dimungkinkan pelaksanannya itu karena selain ALLAH. Yang lebih tepat ungkapan tersebut digunakan untuk menjaga kemurnian ikhlas LILLAH. Supaya ikhlas LILLAH-nya tidak rusak dengan timbulnya riya (pamer) atau membanggakan diri (‘ujub), maka di antara cara menjaganya seperti perkataan tersebut.

Ada lagi yang mengatakan : “Saya bekerja untuk mencari bekal ibadah”. Ucapan seperti ini  jika diterapkan dalam hati masih belum mengarah kepada tujuan LILLAH. Benarkah hasil kerjanya nanti untuk ibadah kepada ALLAH atau hanya untuk menuruti kesenangan nafsuinya ? Masih belum jelas dan dikhawatirkan penyalahgunaannya. Sedangkan bekerjanya itu sendiri bisa langsung dijadikan ibadah karena ALLAH. Jadi yang lebih tepat adalah “Saya bekerja karena ALLAH (LILLAH)” atau karena melaksanakan perintah ALLAH, atau semata-mata beribadah kepada ALLAH. Seamuanya merupakan penerapan “LILLAH”.

 Syekh Sahal At-Tasturi berkata ;      

 “Penerapan ikhlas adalah hendaknya gerak diamnya seseorang, baik pada saat sendirian maupun ada orang lain semata-mata hanya karena ALLAH Ta’ala (LILLAH), tidak dicampuri karena sesuatu baik dorongan nafsu, menuruti kehendak / kesenangan nafsu maupun pamrih duniawi lainnya” (Dikutip dari kitab At-Tibyan An-Nawawi Bab 4)

Jadi beribadah itu tidak hanya terbatas pada menjalankan syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji yang menjadi rukun Islam itu saja, juga tidak hanya terbatas pada menjalankan ibadah-ibadah sunnah seperti membaca Al Qur’an, membaca dzikir, membaca sholawat, dan sebagainya. Akan tetapi disamping itu semua, segala gerak gerik manusia, segala tingkah laku dan perbuatannya, sepanjang tidak melanggar larangan ALLAH Subhanahu Wata’ala, harus dijadikan sebagai pelaksanaan ibadah kepada ALLAH Subhanahu Wata’ala. Jika hidup manusia ini tidak selalu diarahkan untuk pengabdian diri / beribadah kepada ALLAH, ini berarti manusia telah menyimpang dari haluan hidup dan tujuan dihidupkan sebagaimana yang digariskan ALLOH Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an Surat no. 51 Adz- Dzaariaat Ayat 56 :

  Artinya kurang lebih :

“Dan tiada AKU menciptakan jin dan manusia melain-kan agar supaya mereka beribadah mengabdikan diri kepada-KU” (51-Adz Dzaariyat : 56)

Penyelewengan / penyalahgunaan mandat merupaka suatu kesalahan yang harus segera ditobati.

Salah satu syarat yang prinsip yang harus diterapkan dalam hati ketika menjalankan ibadah atau amal perbuatan yang bernialai baik adalah adanya tujuan (niat) di dalam pelaksanaannya. Setiap niat yang baik bisa diikut sertakan dalam tujuan beribadah. Akan tetapi sebagai pondasi yang harus dikokohkan yang seandainya pondasi tersebut hancur akan hancur pula semua yang terbangun di atasnya, yaitu niat beribadah karena ALLOH (LILLAH). Jika tidak disertai niat beribadah, atau ada tujuan yang tidak benar, apapun macamnya perbuatan, perbuatan taat sekalipun, amal perbuatan tersebut bisa jadi tidak dicatat sebagai ibadah.

Suatu contoh pelaksanaan sholat fardlu atau sunnah. Jika pelaksanaannya tidak didasari karena ALLAH (LILLAH), misalnya karena ingin memperoleh pujian atau sesuatu dari orang lain, maka sholat tersebut belum bisa dinamakan pengabdian kepada ALLAH yang murni semata-mata karena-NYA (LILLAH). Tapi masih karena selain ALLAH. (Lighoirillah). Amal ibadah yang karena selain ALLOH itu namanya amal “LIN-NAFSI” (hanya menuruti nafsu) atau menyembah nafsu. Padahal ALLAH Ta'ala tidak akan menerima suatu amal kebaikan (ibadah) yang pelaksanaannya karena selain-Nya. Ini namanya “syirik khofi fil-'ubudiyah”  (menyekutukan tujuan dalam pelaksanaan ibadah dengan selain ALLAH);  Sekalipun diistilahkan “khofi” tapi tetap berbahaya dan terkecam. Lebih-lebih merupakan suatu amal batin/ dilakaukan dalam hati.

 Begitu pula amal-amal ibadah fardlu dan sunnat lainnya; Sekalipun sudah tepat syarat dan rukunnya dalam pelaksanaan lahirnya akan tetapi tidak LILLAH  dalam hatinya, namanya penipuan kepada ALLAH Subhanahu Wata’ala , kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Hal ini  sangat berbahaya karena akan ditolak oleh ALLAH Subhanahu Wata’ala. Firman ALLAH (Q.S. 2 – Al-Baqarah : 9) artinya : “Mereka menipu ALLAH dan orang-orang yang beriman. Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedangkan mereka tidak merasa”)

Begitu pula sebaliknya; jika suatu amal ibadah yang sudah bisa disertai niat LILLAH akan tetapi pelaksanaan lahirnya tidak sesuai dengan aturan ALLAH dan Rasul-Nya, tidak tepat syarat, rukun dan adab-adabnya maka amal ibadah tersebut menjadi batal. Jadi dalam pelaksanaan ibadah disamping harus tepat tata cara pelaksanaannya secara lahiriyah, juga harus tepat niat dan tujuannya secara batiniyah, yakni semata-mata karena ALLAH (LILLAH);

Suatu perbuatan yang bersifat duniawi atau berhukum jawaz / mubah akan berobah menjadi amal ukhrowi atau amal ibadah jika pelaksanaannya didukung / disertai tujuan dan niat semata-mata karena ALLAH (LILLAH);  Misalnya; pada saat nafsu seseorang menginginkan makan (bernafsu makan), saat itu pula hati mengarahkan keinginan nafsunya dengan merobah tujuan makannya. Yang semula “karena keinginan atau kesenangan” lalu dirobah menjadi “karena ALLAH(LILLAH)”, tidak karena kesenangan nafsunya. Dengan demikian makan yang dia lakukan itu bernilai ibadah karena ALLAH. Dia menjadi hamba ALLAH bukan hamba nafsu makan. Sekalipun sudah LILLAH namun urusan pelaksanaan syari’atnya makan harus tetap diperhatikan. Misalnya ; makanannya harus halal, diawali dengan bacaan Basmalah dan do’a sebelum makan, dan adab-adabnya supaya tetap dijaga.   

Amal perbuatan yang harus didasari LILLAH hanyalah amal perbuatan yang baik, yang diridloi ALLAH. Perbuatan yang dilarang atau tidak dibenarkan oleh syari’at, yang merugikan pihak lain, dan sebaginya sama sekali tidak boleh didasari dengan LILLAH. Misalnya “saya berzina, mencuri, mabuk-mabukan, dll. semata-mata karena ALLAH”. Ini namanya pelecehan dan pengihinaan kepada ALLAH. Dosanya menjadi dobel.

Sabda Rosululloh  menegaskan hal niat ini sebagai berikut :

“INNAMAL-A’MAALU BIN-NIYYAAT, WA-INNAMAA LIKULLI-MRI-IN MAA NAWAA, FAMAN KAANAT HIJROTUHUU ILALLOOH I WAROSUULIHI FAHIJROTUHUU ILALLOOHI WAROSUULIH. WAMAN KAANAT HIJROTUHU ILAA DUN-YAN YUSHIIBUHAA AW ILA-MRO-ATIN YANKIHUHAA FAHIJROTUHU ILAA MAA HAAJARO ILAIHI”

Artinya lebih kurang :

“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu ditentukan (dinilai) menurut niatnya; dan sesungguhnya yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan yang dia niatkan. Maka barang siapa hirahnya (amalnya) semata-mata menuju Alloh (LILLAH) dan mengikuti Rosul-Nya (LIRROSUL) maka hijrahnya itu sampai kepada Alloh wan Rasul-Nya. Dan barang siap hijrahnya hanya untuk memperoleh harta dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya hanya sampai pada yang dia tuju” (Riwayat Bukhori, Muslim dan lainnya dari Umar Ibnul Khottob Rodiyallohu ‘anhumaa.)

Penerapan LILLAH ini letaknya di dalam hati. Kelihatannya seperti sesuatu yang sepele (tiada arti) akan tetapi sangat menentukan sekali. Jika kurang mendapat perhatian atau kurang tepat penerapannya, bisa menghancurkan bangunan ibadah dan amal kebaikan secara keseluruhan. Begitu pula penerapan LILLAH ini tidak mudah, kecuali bagi orang yang mendapat hidayah dan taufiq dari ALLAH. Oleh karena itu disamping berlatih setiap saat juga harus berusaha bagaimana cara memperoleh hidayah dan taufiq tersebut. Cara untuk memperolehnya, dalam Wahidiyah, pengamalnya dibimbing untuk melakukan “mujahadah” dengan pengamalan Sholawat Wahidiyah dan selalu berlatih setiap saat menerapkan Ajaran Wahidiyah yang diantaranya adalah "LILLAH" ini.

Sekali lagi harus diingat bahwa yang boleh dan bahkan harus disertai niat ibadah LILLAH adalah terbatas pada perbuatan yang baik / yang tidak terlarang.

Adapun perbuatan yang melanggar syari’at atau undang-undang, yang tidak diridloi oleh ALLAH, yang merugikan, baik merugikan diri sendiri dan lebih-lebih merugikan orang lain, sama sekali tidak boleh dilakukan dengan disertai niat ibadah LILLAH. Harus dijauhi dan ditinggalkan. Betapapun kecil dan remehnya. Harus berusaha sekuat mungkin untuk menjauhi dan meninggalkan ! Dan pada saat menjauhi atau meninggalkan itulah yang harus disertai niat ibadah LILLAH. Jangan sampai dalam kita menjauhi atau meninggalkan munkarot itu didorong oleh kemauan nafsu. Harus LILLAH - beribadah kepada ALLOH, menjalankan perintah ALLOH  (Subhanahu wata’ala) ! Titik. Tidak ingin begini dan begitu.

Ikhlas LILLAH di sini supaya dijadikan sebagai pondasi dari segala amal. Di atas pondasi itu dibangun berbagai bangunan amal perbuatan, termasuk tujuan / niat lain yang tidak bertentangan dengan syari’at. Misalnya; datang ke rumah saudara. Kedatangannya itu supaya didasari niat “LILLAAHI TA’ALA”  Begitu pula tujuan / niat shilaturahim, memberi bantuan, dan sebagainya supaya didasari LILLAH. Sehingga kadatangan, shilaturahim, dan pemberian bantuannya masing-masing tercatat ibadah karena ALLAH. Demikian seterusnya di dalam kita menjalankan perbuatan-perbuatan yang tidak bertentangan dengan syari’at,. Jangan karena terdorong oleh kepentingan nafsu supaya begini dan begitu, agar tidak merusak dan menghancurkan nilai bangunan amal yang kita kerjakan.

Masalah pamrih atau berkeinginan terhadap sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan, ingin kepada kebaikan-kebaikan; seperti ingin pahala, surga dan sebagainya atau takut dari sesuatu yang menakutkan ; seperti kesusahan, penderitaan, siksa neraka dan lain sebagainya, itu diperbolehkan. Bahkan sewajarnya harus begitu. Sebab manusia tidak lepas dari sifat basyariyah yang mempunyai keinginan dan harapan serta kemauan-kemauan yang semuanya bersumber dari nafsu, dan nafsu itupun suatu anugrah Tuhan yang diberikan kepada manusia sehingga menjadi makhluk yang lebih lengkap dan paling sempurna di antara makhluk-makhluk lainnya. Maka nafsu seperti itulah yang harus diarahkan. Diarahkan ke arah yang telah digariskan oleh ALLOH  (Subhanahu wata’ala); yaitu “Liya’buduuni” tersebut. Diarahkan untuk ibadah kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala). Jika tidak diarahkan, pasti akan terjadi timbunan hawa nafsu yang serakah dan mengakibatkan penyelewengan dan penyalahgunaan yang akibatnya akan menghancurkan manusia itu sendiri. Bahkan bisa menghancurkan ummat dan masyarakat. Oleh karena itu di dalam berkeinginan atau pamrih seperti di atas harus disertai niat ibadah kepada ALLOH Subhanahu wata’ala dengan ikhlas LILLAH (semata-mata karena ALLOH).

Jadi lebih jelasnya, ketika kita bersembahyang, berpuasa, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, membaca Qur’an, membaca dzikir, membaca sholawat dan sebagainya supaya disertai niat beribadah yang sungguh-sungguh ikhlas LILLAH. Jangan sampai kita melakukan semua tadi hanya karena ingin surga, ingin pahala, takut neraka, ingin terhormat, ingin terpuji, ingin kaya dan sebagainya. Begitu juga ketika kita bekerja, belajar, berjuang untuk bangsa, agama dan negara, mengurus dan mengatur rumah tangga, kita ke sawah, ke pasar, ke kantor, ke toko, dan ketika kita makan, minum, tidur, istirahat, mandi dan sebagainya dan sebagainya, selama bukan pekerjaan yang melanggar aturan supaya disertai dengan niat ibadah kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala) dengan ikhlas semata-mata karena ALLOH (LILLAH) tanpa pamrih. Begitu juga ketika kita berkeinginan, berkemauan, berangan-angan, berfikir dan sebagainya harus disertai niat ibadah kepada ALLOH. (LILLAH). Jadi benar-benar melaksanakan pernyataan yang kita baca pada setiap sholat yaitu :

INNA SHOLAATI WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHI ROBBIL-‘ALAMIIN

 Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk ALLOH Robbil ‘Aalamiin”.

dan menerapkan di dalam hati kandungan ayat yang sering kita baca di dalam Surat Al Fatihah : “IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IIN

Hanya kepada-MU (yaa ALLOH) kami mengabdikan diri

Dengan demikian bagi yang telah mampu menerapkan hal-hal tersebut boleh dikatakan hatinya senantiasa ber-tahlil :  “LAA ILAAHA ILLALLOH” (TiadaTuhan melainkan ALLOH”).

Ilmiah dan pengertian mudah dipelajari / mudah dihafal. Akan tetapi disamping pengertian, perlu diusahakan penerapan dan pelaksanaan ilmiah yang sudah kita miliki. Tidak cukup hanya dipelajari, dibahas, diperdebatkan keshahihan dasar, didiskusikan, diseminarkan dan lain sebagainya. Kalau tidak diamalkan dan diterapkan dalam hati akan menjadi tambahan penyakit.

Sabda Nabi (Shollalloohui ‘alaihi wasallam) yang artinya : “Sesungguhnya ALLAH Ta’ala tidak memandang bentuk lahiriyahmu (kepandaian, kemasyhuran, kedudukanmu) dan harta bendamu, melainkan Alloh Ta’ala memandang hatimu dan amal perbuatanmu” (H.R. Muslim dan Ibnu Majah dari Abi Hurairah, Rodliyalloohu’anhu).

Orang yang mempunyai ilmu akan tetapi ilmunya tidak diterapkan / tidak diamalkan, dia sangat terkecam sekali dan akan mengalami bahaya yang sangat berat. Di dalam kitab Nazhom Az Zubad Karangan Asy-Syekh Al-Allamah Ahmad bin Ruslan Asy-Syafi’i dikatakan :

“FA’ALIMUN BI’ILMIHII LAN YA’MALAN #  MU’ADZDZABUN MIN QOBLI ‘UBBADIL-WATSAN”

“Orang yang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya kelak disiksa lebih dahulu daripada penyiksaan para penyembah berhala”.

Jadi jelasnya, amal perbuatan apa saja, berupa sholat sekalipun, jika tidak disertai niat ibadah LILLAH otomatis disalahgunakan oleh nafsu atau LINNAFSI, menuruti keinginan nafsu. Dan nafsu adalah sebagai sarang iblis dan syetan. Kelak di neraka tempatnya. (Uraian tentang nafsu lihat hal Mujahadah dalam kolom lain di Harian Bangsa ini).

Di dalam Wahidiyah; dengan memperbanyak Mujahadah Wahidiyah disamping terus menerus melatih hati dengan niat LILLAH seperti di atas, Insya ALLAH pengamalnya dikaruniai banyak kemajuan dan peningkatan dalam hal beribadah kepada ALLOH dengan niat ikhlas LILLAH tersebut. Bahkan Alloh telah berjanji akan membukakan jalan kesadaran kepada-NYA  bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mau berusaha atau bermujahadah. Firman-Nya yang artinya : “ Dan orang-orang yang  bersungguh-sungguh menuju kepada Kami, pasti mereka Kami tunjukkan jalan Kami”. (Q.S 29 AL-Ankabut 69).

Mari kita mengadakan koreksi kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita senantiasa berikhlash LILLAH dalam segala amal perbuatan kita yang baik ? Kalau sudah, kita harus bersyukur kepada ALLAH (Subhanahu wata’ala) karena keikhlasannya itu semata-mata karena fadlol dari-NYA. Kalau belum bisa ikhlas mari bersama-sama kita berusaha dan berlatih dengan sungguh-sungguh serta berdo’a semoga ALLAH (Subhanahu wata’ala) segera berkenan membukakan pintu hidayah-Nya kepada kita bersama. Amiin

DASAR-DASAR  BERAMAL DENGAN IKHLASH LILLAH

a. Firman ALLOH  (Subhanahu wata’ala) dalam QS 98 : Al-Bayyinah : 5 :

 “Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah ALLOH dengan memurnikan  keta’atan  kepada-NYA  dalam  (menjalankan) agama dengan lurus (dengan ikhlas LILLAH)”.

b. Firman ALLOH  (Subhanahu wata’ala) dalam Q.S. 51 : Adz-Dzariyat 56 :

 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar supaya mereka mengabdikan diiri kepada-KU”.

c. Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)  bersabda :

 “Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niat, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan niatnya. Barang siapa hijrahnya (beramalnya) menuju ALLAH (LILLAH) dan Rasul-NYA (LIRROSUL) maka hijrahnya diterima oleh ALLAH dan Rasul-NYA, dan barang siapa hijrahnya (beramalnya) untuk memperoleh materi atau mempersunting perempuan maka nilai hijrahnya sesuai dengan yang ditujunya ”. (H.R. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan An-Nasa-I dari Sayyidina Umar bin Khotthob )

Yang dimaksud A’maalu dalam hadits adalah semua amal perbuatan yang tidak bertentangan dengan syari’at baik berupa ucapan maupun perbuatan anggota badan lainnya. Nilai suatu amal sangat ditentukan oleh niatnya.

Jadi segala perbuatan dan tingkah laku manusia dalam segala keadaan, siatuasi dan kondisi yang bagaimanapun, hidup di dunia ini harus diarahkan untuk pengabdian diri / beribadah kepada Allah (Subhanahu wata’ala) sebagai pelaksanaan tugas “LIYA’BUDUUNI”.

d. Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)  bersabda :

“Ikhlaskan amalmu hanya kerena ALLOH (LILLAH) sebab ALLOH tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas kepada-Nya”.

 e.  Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)  bersabda :

Dunia seisinya dila’nat (dikutuk oleh ALLOH) kecuali sesuatu yang digunakan/ dilakukan semata-mata mengharap ridlo-NYA (Lillah)” (H.R. Thabrany)

KEUNTUNGAN BAGI YANG BERIKHLAS LILLAH

a.     Firman Alloh (Q.S. 16 – An-Nahl- 97) :

“Barang siapa mengerjakan amal shaleh (LILLAH), baik laki-laki maupun perempuian dalam keadaan beriman (BILLAH) maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Suatu amal perbuatan seseorang dinamakan shaleh menurut pandangan ALLAH jika dilakukannya dengan ikhlas semata-mata hanya karena-NYA (LILLAH).

b. Dalam suatu hadits, Beliau (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)   bersabda :

 “Ikhlaskanlah amalmu semata-mata karena ALLOH (LILLAH), maka sedikit amal dengan ikhlas sudah memadai (mencukupi) bagimu”. (HR Abu Mansur dan Ad-Dailami)

c., Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)   bersabda :

 “Tiada seseorang beramal dengan ikhlas karena Alloh selama 40 hari kecuali akan memancar sumber-sumber hikmah dari hati sampai ke lisannya”. (HR. Ibnul Juzy dan Ibnul ‘Addy dari Abi Musa Al-Asy’ary, Ra ).

d. Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)   bersabda :

 Barang siapa meninggal dunia dia senantiasa berikhlas karena ALLOH semata (LILLAH) dan tiada menyekutukan-NYA (BILLAH) (pada masa hidupnya) serta menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka dia meninggal dunia dengan memperoleh ridlo Alloh “ (H.R. Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Anas bin Malik)

e. Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)    bersabda :

 “Barangsiapa cinta karena ALLOH (Lillah), benci karena ALLOH, memberi karena ALLOH dan menolak (tidak memberi) karena Alloh, maka sungguh telah sempurna imannya”. (HR. Abu Dawud dan Adh-Dhiya’ dari Abi Umamah dengan sanad shoheh).

f. Ditegaskan pula dalam hadits Nabi (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)   yang lain :

 “Alangkah bahagianya orang-orang yang beramal dengan ikhlas (LILLAH). Mereka itulah sebagai lampu-lampu petunjuk yang menghilangkan kegelapan fitnah"  (HR. Baihaqi dan Abu Nu’aim dari Tsauban)

 g. Ikhlas menurut Imam Ghozaly adalah diam dan geraknya seseorang itu hanya karena ALLOH. (LILLAH) Begitu pula Syekh Zaini Dakhlan berpendapat bahwa ikhlas itu adalah  kesamaan antara lahir dan batin bagi seseorang dalam menjalankan suatu amal; Artinya secara lahir ia menjalankan amal sesuai perintah Alloh, dan hatinya berniat semata-mata karena ALLOH (LILLAH). Disamping itu ia tidak akan berubah karena keadaan; baik ada orang maupun tidak.

KERUGIAN DAN KECAMAN BAGI YANG TIDAK MENERAPKAN LILLAH

Orang yang tidak menerapkan ikhlas LILLAH termasuk dalam firman ALLAH yang artinya :

 Mereka menipu AlLLOH dan menipu orang-orang yang beriman. Sebenarnya mereka tiada menipu kecuali kepada dirinya sendiri sedangkan mereka tidak merasa” (Q.S. 2. Al-Baqarah 9)

Dalam Hadits Qudsi disebutkan :                                  

 “ALLOH berfirman: “Aku tidak memerlukan persekutuan dan Aku tidak memerlukan suatu amal yang dipersekutukan dengan selain-KU. Barangsiapa beramal dengan menyekutukan  selain Aku (tidak murni karena Aku), maka Aku terlepas darinya”. ( disebutkan oleh Al-faqih  As-Samar-qondy dalam kitab Tanbihul-Ghofilin dari hadits Abi Huroiroh, Ra).

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)  bersabda :

“INNALLOOHA LAA YAQBALU MINAL-‘AMALI ILLAA MAA KAANA LAHUU KHOOLISHON WABTUGHIYA BIHII WAJHUHU”

 “Sesungguhnya ALLOH tidak menerima suatu amal kecuali amal yang ikhlas  (LILLAH) dan dilakukan semata-mata mengharap ridlo-NYA”. (HR.Nasa’i dari Abi Umamah).

ALLOH (Subhanahu wata’ala)  berfirman (Q.S.15  Al-hIjr : 39-40 ) menghikayahkan ucapan iblis :

 “Iblis berkata: “Yaa Tuhanku, sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku tersesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik perbuatan ma’siatnya di muka bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka, kecuali hamba-hamba Engkau yang berikhlas di antara mereka”.

Logikanya orang-orang yang tidak benar-benar beramal dengan ikhlas LILLAH dia dengan mudah akan diombang-ambingkan dalam kesesatan oleh Iblis. Sekalipun kelihatannya beramal baik kemungkinan besar di balik kebaikannya itu ada keburukan bahkan mungkin ada kejahatan yang berlindung. Apabila kejadian seperti ini tidak diperhatikan dan dibiarkan berlarut-larut mewabah ke lubuk hati setiap insan maka akan berakibat fatal. Penipuan (sekalipun dangan cara yang halus), penyalahgunaan hak, kerakusan, kemunkarotan dan sebagainya akan terjadi di semua sektor kehidupan masyarakat. Dengan demikian tidak mustahil lagi jika keadaan ummat manusia semakin tersesat dengan hawa nafsunya dan tidak memperoleh petunjuk dari ALLOH (Subhanahu wata’ala). 

ALLOH (Subhanahu wata’ala)   berfirman dalam(Q.S. 28 - Al-Qoshos 50 :

“Tiada seseorang yang lebih tersesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya serta tidak mendapat petunjuk dari ALLOH. Sesungguhnya ALLOH tidak akan memberi petunjuk kepada kaum (orang-orang) yang  zhalim”.

Rosululloh (Shollalloohui ‘alaihi wasallam)  bersabda:

 “Sesembahan di atas bumi yang sangat dimurkai ALLOH adalah hawa nafsu”. (HR. Thobroni dari Abi Umamah)

Al-hamdu Lillah, dalam situasi dan kondisi ummat manusia yang semakin tenggelam dalam lautan kegelapan hawa nafsunya, ALLOH berkenan memunculkan seorang hamba-NYA untuk menyingkap tabir-tabir kegelapan itu dengan menyebarluaskan bimbingan praktis menuju kesadaran kepada ALLOH . Hamba ALLOH yang dimaksud adalah Hadlrotus Syekh KH Abdoel Madjid Ma’rof, Muallif Sholawat Wahidiyah dan perumus Ajaran Wahidiyah.

Sebelum dan selama ini masalah ikhlash LILLAH, lebih-lebih penerapan BILLAH dan bimbingan lainnya masih terbatas di kalangan orang-orang khas (tertentu) saja. Belum banyak diketahui lebih-lebih diterapkan oleh ummat manusia secara umum. Bahkan masih ada pendapat bahwa LILLAH – BILLAH itu hanya bisa dilakukan atau untuk para Waliyulloh saja. Bukan untuk ummat Islam secara umum. Pandangan tersebut sangat tidak beralasan. Karena Al-Qur-an, Al-Hadits dan syari’at Islam ditujukan kepada ummat secara umum. Khithabnya tidak hanya kepada para Waliyulloh saja. 

Sekalipun di sana-sini sering menemui hambatan dan tantangan dalam penyampaian bimbingan tersebut, Alhamdu Lillah, dengan pelan-pelan akhirnya bisa dimengerti dan diterima oleh sebagian dari masyarakat. Haadzaa Min Fadhlillaah. Mudah-mudahan dengan dimuatnya dalam situs ini ALLOH (Subhanahu wata’ala) segera menyampaikannya ke dalam lubuk hati para pembacanya dan ummat masyarakat pada umumnya sehingga ummat masyarakat khususnya diri kita masing-masing dan bangsa Indonesia ini segera kembali mengabdikan diri kepada ALLOH (Subhanahu wata’ala). Amiin.

Mari hati kita sendiri khususnya dan ummat masyarakat pada umumnya selalu kita panggil dengan panggilan ALLOH (Subhanahu wata’ala) yang berbunyi “FAFIRRUU ILALLOOH” (Larilah kembali kepada ALLOH).  

Ikhlas LILLAH adalah suatu pelaksanaan syari’at yang dilakukan oleh hati atau syariatnya hati. Sedangkan syari’at itu sendiri masih memerlukan adanya haqiqat. Yang dimaksud haqiqat di sini adalah bertauhid BILLAH. Karena syari’at (sekalipun sudah disertai LILLAH) tanpa haqiqat (BILLAH) bagaikan jasad tanpa nyawa, dan haqiqat (BILLAH) tanpa syari’at (LILLAH) bagaikan nyawa tanpa jasad. Jadi dianggapnya manusia hidup sempurna jika  jasadnya berisi nyawa. Begitu pula amal ibadah dianggap sempurna jika LILLAH-nya diserati BILLAH.  Bagaimana pengertian dan cara penerapannya ? Insya ALLOH pada kesempatan berikutnya bisa dibahas..

WALLOOHU A'LAMU BISH-SHOWAB.

Penulis    : Zainuddin Tamsir

Referensi : Buku-Buku Wahidiyah

Kunjungi website http://suasana.multiply.com 

 


Blog EntryAug 25, '09 6:57 AM
for everyone

Al-Qur-an

Bacalah Al-Qur-an dengan khusyu', khudhu' dan keikhlasan hati terutama dalam bulan Ramadhan ini. Pelajari arti / makna. tafsir, asbabunnuzul dll. Ambil nama Surat pilihan Anda. Anda akan diantarkan masuk ke http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_surah.asp?SuratKe=69#Top

No. Nama Surat
No. Nama Surat



(1) AL-FATIHAH
(114) AN-NAAS
(2) AL-BAQARAH
(113) AL-FALAQ
(3) 'ALI-IMRAN
(112) AL-IKHLAS
(4) AN-NISAA'
(111) AL-LAHAB
(5) AL-MAA-IDAH
(110) AN-NASHR
(6) AL-AN'AAM
(109) AL-KAAFIRUN
(7) AL-A'RAAF
(108) AL-KAUTSAR
(8) AL-ANFAL
(107) AL-MAA'UN
(9) AT-TAUBAH
(106) QURAISY
(10) YUNUS
(105) AL-FIIL
(11) HUUD
(104) AL-HUMAZAH
(12) YUSUF
(103) AL-ASHAR
(13) AR-RA'D
(102) AT-TAKAATSUR
(14) IBRAHIM
(101) AL-QAARI'AH
(15) AL-HIJR
(100) AL-AADIYAAT
(16) AN-NAHL
(99) AL-ZALZALAH
(17) AL-ISRAA'
(98) AL-BAYYINAH
(18) AL-KAHFI
(97) AL-QADAR
(19) MARYAM
(96) AL-'ALAQ
(20) THAA-HAA
(95) AT-TIIN
(21) AL-ANBIYAA'
(94) ALAM-NASYRAH
(22) AL-HAJJ
(93) AD-DHUHA
(23) AL-MU'MINUUN
(92) AL-LAIL
(24) AN-NUUR
(91) ASY-SYAMS
(25) AL-FURQAN
(90) AL-BALAD
(26) ASY-SYU'ARAA
(89) AL-FAJR
(27) AN-NAML
(88) AL-GHAASYIYAH
(28) AL-QASHAASH
(87) AL-A'LAA
(29) AL-ANKABUUT
(86) ATH-THAARIQ
(30) AR-RUM
(85) AL-BURUJ
(31) LUQMAN
(84) AL-INSYIQAAQ
(32) AS-SAJDAH
(83) AL-MUTHAFFIFIIN
(33) AL-AHZAB
(82) AL-INFITHAAR
(34) SABA'
(81) AT-TAKWIR
(35) FAATHIR
(80) 'ABASA
(36) YAA-SIIN
(79) AN-NAAZI'AT
(37) ASF-SHAFFAAT
(78) AN-NABAA'
(38) SHAAD
(77) AL-MURSALAAT
(39) AZ-ZUMAR
(76) AL-INSAAN
(40) AL-MU'MIN
(75) AL-QIYAAMAH
(41) FUSHSHILAT
(74) AL-MUDDATSTSIR
(42) ASY-SYURAA
(73) AL-MUZZAMMIL
(43) AZ-ZUKHRUF
(72) AL-JIN
(44) AD-DUKHAAN
(71) NUH
(45) AL-JAATSIYAH
(70) AL-MA'AARIJ
(46) AHQAAF
(69) AL-HAAQQAH
(47) MUHAMMAD
(68) AL-QALAAM
(48) AL-FATH
(67) AL-MULK
(49) AL-HUJARAAT
(66) AT-TAHRIM
(50) QAAF
(65) ATH-TALAAQ
(51) ADZ-DZAARIYAAT
(64) AT-TAGHAABUN
(52) ATH-THUUR
(63) AL-MUNAAFIQUN
(53) AN-NAJM
(62) AL-JUMU'AH
(54) AL-QAMAR
(61) ASH-SHAFF
(55) AR-RAHMAN
(60) MUMTAHANAH
(56) AL-WAAQI'AH
(59) HASYR
(57) AL-HAADID
(58) AL-MUJAADILAH













EventAug 22, '09 10:33 PM
for everyone
Start:     Aug 22, '09 11:00p
End:     Aug 23, '09
attahdziby.multiply.com online tanggal 21 Agustus 2009 M / 1 Ramadhan 1430 H

LinkAug 22, '09 4:06 PM
for everyone
Link: http://suasana.multiply.com

Bulletin Suara Santri Attahdziby (SuaSanA)

Aug 22, '09 4:02 PM
for everyone
Category:Other
SuaSanA Ramadhan
Suara Santri Attahdziby Tentang Bulan Ramadlan
==============================
KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
1. Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajib-kan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malm yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa'." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i)
2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:
"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, meng-hapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a. Allah melihat berlomba-lombanya kama pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini. " (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayat-nya terpercaya). , Al-Mundziri berkata: "Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Baihaqi, keduanya ari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya."
3. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda:
"Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),'Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, 'pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. "Beliau ditanya, 'Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar' Jawab beliau, 'Tidak. Namun ovang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.' " (HR. Ahmad)'" Isnad hadits tersebut dha'if, dan di antara bagiannya ada nash-Nash lain yang memperkuatnya.

Rahsia Puasa

Sebesar-besar nikmat yang pernah dikurniakan Allah ke atas hamba-hambaNya ialah dengan menjadikan puasa itu benteng bagi para wali dan perlindungan bagi mereka dari segala tipu daya syaitan dan angan-angannya, sebagimana Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: “Puasa itu separuh kesabaran”

Allah telah berfirman: “Hanyasanya orang-orang yang sabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)

Kalau begitu pahalanya kesabaran itu telah melampaui batas-batas perkiraan dan perhitungan dan memadailah kalau kita mengetahui keutamaannya dengan sabda Rasulullah s.a.w. yang berikut: “Demi Allah yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, bahawa bau mulut seorang yang berpuasa adalah lebih harum pada sisi Allah dari bau-bauan minyak kasturi. Allah azzawajalla berkata: Sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makannya dan minumannya kerana Aku. Puasa itu (dilakukan) kerana Aku, dan Akulah yang akan memberikan balasannya sendiri.”

Orang yang berpuasa itu dijanjikan Allah akan bertemu denganNya untuk menerima balasan puasanya itu.

Rasulullah s.a.w telah bersabda: “Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan: Kegembiraan yang pertama ketika masa berbuka puasanya, dan kegembiraan yang lain ialah ketika masa menemui Tuhannya.”

Dalam penafsiran makna ayat yang berikut: “Tiada seorang pun yang mengetahui apa-apa yang telah disembunyikan daripada mereka itu dari cahaya mata, iaitu sebagai pembalasan terhadap segala yang mereka kerjakan.” (as-Sajdah:17)

Yakni amalan yang mereka kerjakan itu ialah berpuasa sebab Allah berfirman pula pada ayat yang lain: “Hanyasanya orang-orang yang bersabar itu dipenuhi pahalanya tanpa perhitungan.” (az-Zumar: 10)

Nyatalah orang yang berpuasa itu akan diberikan balasan secukup-cukupnya dan dilipat-gandakan pahalanya tanpa dapat diragukan lagi atau diperhitungkan banyaknya. Sudah sewajarnyalah ia menerima balasan yang begitu besar, sebab puasa itu adalah dikerjakan kerana Allah semata-mata dan ditujukan kepadaNya, tiada lain. Walaupun ibadat-ibadat yang lain itu pun ditujukan kepada Allah jua, tetapi ada dua perbedaannya:
1. Bahawasanya puasa itu adalah menahan diri dan meninggalkan hawa nafsu, dan ia adalah rahsia di dalam diri seseorang dan bukan merupakan amalan yang boleh dilihat. Semua ketaatan dibuat di mata ramai dan dapat diketahui, melainkan puasa saja, tiada yang melihatnya selain Allah azzawajalla. Ia adalah suatu amalan dalam kebatinan yang disertai dengan kesabaran semata-mata.
2. Bahawasanya puasa itu merupakan suatu jalan penentangan terhadap musuh Allah azzawajalla, sebab jalan syaitan itu, ialah melalui syahwat dan hawa nafsu yang meminta banyak makan dan minum. Jadi dalam menekan dan menentang kemahuan musuh Allah itu adalah suatu pertolongan kepada Allah Ta’ala sedangkan pertolongan Allah kepada kita itu tergantung atas pertolongan dari Allah Ta’ala.

Allah telah berfirman: “Jika kamu sekalian menolong Allah (menurut perintah Allah), tentulah Allah akan menolong kamu dan akan menetapkan kaki kamu (kedudukan kamu).” (Muhammad: 7)

Dengan jalan inilah puasa itu menjadi pintu bagi segala peribadatan dan perlindungan dari hawa nafsu. Jika kita telah mengetahui keutamaannya begitu besar sekali, maka hendaklah kita menuntut syarat-syaratnya yang lahir dan batin dengan mempelajari rukun-rukunnya, sunat-sunatnya dan syarat-syarat kebatinannya.

Kewajiban-kewajiban lahiriah puasa

Adapun kewajiban lahiriah puasa enam perkara:
1. Meneliti datangnya permulaan bulan Ramadhan dengan rukyah, iaitu dengan melihat anak bulan. Jika tiada terlihat, maka genapkanlah bulan Sya’ban 30 hari. Kami maksudkan, rukyah atau melihat itu, mestilah melalui ilmu pengetahuan dan ini dapat disahkan dengan penyaksian seorang adil (orang yang terkenal lurus perjalanannya dan tiada diragui boleh berbohong). Ini kalau penyaksian maksudnya Ramadhan. Tetapi untuk penyaksian permulaan Syawal atau anak bulan Syawwal, dihukumkan tidak sah, melainkan dengan dua orang saksi adil, mengambil hukum yang lebih berat untuk menyempurnakan ibadat puasa. Barangsiapa mendengar seorag adil dan ia percaya dengan yakin apa yang disaksikannya tentang anak bulan itu tanpa apa-apa keraguan lagi bagi dirinya, maka wajiblah dia berpuasa meskipun kadhi atau hakim tiada menghukumkan sah penyaksiannya itu.
2. Niat puasa pada setiap malam - mestilah dia berniat yang khas dan tetap bagi kefardhuan puasa kerana Allah Ta’ala.
3. Menahan diri dari menyampaikan sesuatu benda ke dalam perutnya dengan sengaja tidak terlupakan dirinya sedang berpuasa. Kalau dilakukan yang demikian, maka rosaklah puasanya; iaitu dengan makan atau minum, memasukkan sesuatu melalui lubang hidung atau dubur. Tidak batal dengan bersuntik, berbekam, bercelak, memasukkan pembersih ke dalam telinga atau melalui zakar ataupun apa yang sampai ke perut tanpa disengajakan seperti debu jalan, ataupun seekor lalat termasuk ke dalam perutnya. Kalau air masuk ke dalam perut disebabkan berkumur-kumur tidak membatalkan puasa, kecuali jika dia terlalu berlebihan-lebihan dalam berkumur-kumur, maka perbuatan serupa membatalkan disebabkan kecuaian. Itulah yang dimaksudkan dengan perkataan dengan sengaja. Adapun perkataan tidak terlupa - dimaksudkan supaya ia terselamat dari lupa, kiranya ia terlupa, maka tidaklah dikira batal puasanya.
4. Menahan diri dari persetubuhan tetapi kiranya dia bersetubuh dengan terlupa maka tiadalah dikira telah berbuka. Kiranya dia bersetubuh di sebelah malam, ataupun dia bermimpi, sehingga dia menjadi seorang junub di sebelah paginya, maka tiadalah ia dikirakan berbuka.
5. Menahan diri dari sengaja mengeluarkan air mani dengan tujuan untuk bersetubuh ataupun tidak bersetubuh, sebab kelakuan yang demikian itu adalah membatalkan puasa. Bercium-ciuman dengan isteri atau bercumbu-cumbu dengannya tiada membatalkan puasa selagi tiada mengeluarkan mani, tetapi perbuatan semacam itu adalah makruh hukumnya kecuali jika dia seorang yang sudah tua, atau orang yang dapat menguasai dirinya (tidak takut keluar mani) maka bolehlah dia bercium-ciuman. Walau bagaimanapun meninggalkan kelakuan serupa ini adalah utama.
6. Menahan diri dari muntah, sebab sengaja mengeluarkan muntah dari perutnya membatalkan puasa tetapi kalau termuntah dengan tidak sengaja, maka tidaklah batal puasanya. Dan sekiranya tertelan kahak dari kerongkongnya atau dari dadanya, tiadalah batal puasanya, kerana keringanan sebab tidak dapat ditahan, melainkan kalau dia menelannya sesudah kahak itu sampai ditengah mulutnya maka hal itu akan membatalkan puasanya.

Perkara yang harus dilakukan bila batal puasa.

Orang yang batal puasanya harus melakukan empat perkara:

1. Qadha’: Kewajibannya umum ke atas setiap Muslim Mukallaf yang meninggalkan puasa dengan uzur ataupun tanpa uzur. Umpamanya, perempuan yang datang darah haidh harus mengqadha’kan puasanya, demikian pulalah orang yang murtad. Adapun orang kafir, anak kecil dan orang gila tidak wajib mengqadha’kan puasanya. Dan hukum mengqadha’kannya tidak wajib berturut-turut, tetapi bolehlah mengqadhakannya sesuka hatinya sama ada terpisah-pisah ataupun terkumpul.
2. Kaffarah: Kewajibannya berlaku hanya ke atas orang yang bersetubuh pada siang Ramadhan, selainnya tidak dikenakan kaffarah. Adapun kaffarahnya ialah memerdekakan seorang hamba. Kiranya ia tidak mempunyai wang untuk menebus seorang hamba, maka berpuasalah ia dua bulan berturut-turut. Jika ia tidak mampu, maka hendaklah ia memberi makan kepada 60 orang miskin setiap seorang satu mud.
3. Berhenti dari makan-minum dan sebagainya pada sisa harinya. Ini diwajibkan ke atas orang yang menderhaka perintah Allah, kerana tiada berpuasa ataupun kerana cuai pada perintah puasa (berbuka tanpa sebab atau seumpamanya). Maka hendaklah ia berhenti dari makan-minum, apabila ternyata ada seorang adil yang menyaksikan anak bulan pada hari syak (iaitu 30 Sya’ban), sedangkan orang ramai semuanya tiada berpuasa pula, maka hendaklah sekaliannya berhenti dari makan-minum dan sebagainya. Bagi orang yang sedang dalam pelayaran, berpuasalah adalah lebih utama daripada berbuka,
4. Mengeluarkan fidyah, iaitu bagi orang yang mengandung atau ibu yang masih menyusukan bayinya, kerana khuatir kemudharatan ke atas bayi jika ia berpuasa. Maka dikeluarkan fidyah kerana tiada berpuasa itu, setiap hari satu mud gandum/beras kepada seorang miskin, kemudian puasa itu diqadha’kan. Begitu pula dengan orang tua yang sudah lanjut umurnya, tiada mampu untuk berpuasa, dikeluarkan fidyah satu mud juga.

Sunnat-sunnat puasa

Sunnat bagi orang yang berpuasa melewatkan sahur dan menyegerakan berbuka, iaitu dengan buah kurma atau dengan air sebelum bersembahyang. Sunnat baginya juga banyak bersedekah dalam bulan Ramadhan, banyak membaca Al-Quran duduk beri’tikaf dalam masjid pada 10 hari yang terakhir dari Ramadhan dan tiada keluar dari masjid itu, melainkan kerana sesuatu hajat saja. Tiada mengapa dia memakai bau-bauan yang wangi di dalam masjid, berakad nikah di situ, makan-minum dan tidur di dalamnya, membasuh tangan di dalam besin, yang semua itu mungkin diperlukan ketika ber’iktikaf di dalam masjid.

Jenis-Jenis puasa dan tingkatannya.

Ketahuilah bahawa puasa itu ada tiga darjatnya.
1. Puasa umum: iaitu berpuasa dengan menahan perut dan faraj (kemaluan) dari mengecap kesyahwatannya, seperti yang telah berlalu huraiannya.
2. Puasa khusus: iaitu puasa disertakan dengan mengekang pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan seluruh anggota dari melakukann perkara-perkara yang haram atau dosa.
3. Puasa khususul–khusus: iaitu berpuasa dengan menyertakan semua yang tersebut di atas tadi dan menambah lagi dengan berpuasanya hati dari segala cita-cita yang kotor dan pemikiran-pemikiran keduniaan dan memesongkan perhatian dari selain Allah azzawajalla sama sekali.

Rahsia-rahsia puasa dan syarat-syarat kebatinannya:

Semua ada enam iaitu:
1. Memejamkan mata dan menahannya dari meluaskan pemandangan kepada segala perkara yang tercela dan dibenci oleh agama dan juga kepada segala sesuatu yang boleh menganggu hati, seperti melalaikannya dari berzikir dan mengingat kepada Allah.
2. Memelihara lidah dari bersembang kosong, berbohong, mencaci maki, bercakap kotor, menimbulkan permusuhan dan riya’.
3. Memelihara pendengaran dari mendengar hal-hal yang dilarang dan dibenci, sebab setiap yang haram diucapkan haram pula didengarkan. Dan kerana itu jugalah Allah s.w.t telah menyamakan pendengaran kepada sesuatu semacam itu dengan memakan barang-barang yang diharamkan, sebagaimana dalam firmanNya:

“Mereka itu suka mendengar perkara yang bohong dan memakan barang yang haram.” (al-Maidah: 42)

4. Memelihara seluruh anggota yang lain dari membuat dosa seperti tangan dan kaki dan memeliharanya juga dari segala yang dibenci. Demikian pula menahan perut dari memakan barang-barang yang bersyubhat waktu berbuka puasa. Apalah gunanya berpuasa dari makanan yang halal, kemudian dia berbuka pula, dia memakan makanan yang haram. Orang berpuasa seperti ini, samalah seperti orang yang membangunkan sebuah istana yang indah, kemudian dia menghancurkan sebuah kota. Rasulullah s.a.w bersabda:

“Ada banyak orang yang berpuasa tetapi ia tiada memperolehi dari puasaya itu selain dari lapar dan dahaga (yakni tiada mendapat pahala).”

Ada yang mengatakan bahwa orang itu adalah orang yang berbuka puasanya dengan makanan yang haram. Yang lain pula mengatakan orang itu ialah orang yang menahan dirinya berpuasa dari makanan yang halal, lalu ia berbuka dengan memakan daging manusia; iaitu mencaci maki orang kerana yang demikian itu adalah haram hukumnya. Ada yang mengertikannya dengan orang yang tiada memelihara anggota-anggotanya dari dosa.

5. Janganlah dia membanyakkan makan waktu berbuka puasa, sekalipun dari makanan yang halal, sehingga terlampau kenyang, kerana tidak ada bekas yang paling dibenci oleh Allah s.w.t. daripada perut yang penuh dari makanan yang halal. Cubalah renungkan, bagaimanakah dapat menentang musuh Allah (syaitan) dan melawan syahwat kiranya apa yang dilakukan oleh orang yang berpuasa waktu berbuka itu, ialah mengisikan perut yang kosong itu dengan berbagai makanan semata-mata kerana dia tidak mengisikannya di waktu siang tadi. Kadangkala makanan-makanan yang disediakan itu berbagai-bagai rencamnya sehingga menjadi semacam adat pula kemudiannya. Akhirnya dikumpulkanlah bermacam ragam makanan untuk persediaan menyambut Ramadhan, dan dihidangkan pula dalam satu bulan itu bermacam-macam makanan yang tidak pernah dihidangkan dalam bulan-bulan sebelumnya. Sebagaimana yang termaklum bahwa maksud puasa itu adalah menahan selera dan mengekang nafsu, agar diri menjadi kuat untuk taat dan bertaqwa kepada Allah. Tetapi kalaulah hanya sekadar mengekang perut di siang hari hingga ke masa terbuka, lalu membiarkan syahwat berlonjak-lonjak dengan kemahuannya kepada makanan, dan dihidangkan pula dengan berbagai-bagai makanan yang lazat-lazat, sehingga perut kekenyangan, tentulah perut akan bertambah keinginannya kepada makanan-makanan itu. Malah akan timbul syahwat pula keinginan yang baru, yang kalau tidak dibiasakan sebelumnya mungkin ia tetap pada kebiasaannya. Semua ini adalah bertentangan dengan maksud dan tujuan puasa yang sebenarnya. Sebab hakikat puasa dan rahsianya adalah untuk melemahkan kemahuan dan keinginan, yang digunakan oleh syaitan sebagai cara-cara yang menarik manusia kepada berbagai kejahatan. Padahal kemahuan dan keinginan ini tidak dapat ditentang, melainkan dengan mengurangkan syahwat. Barangsiapa yang menjadikan di antara hatinya dan dadanya tempat untuk dipenuhi dengan makanan, maka ia terlindung dari kerajaan langit.
6. Hendaklah hatinya merasa bimbang antara takut dan harap kerana ia tiada mengetahui apakah amalan puasanya itu diterima oleh Allah, sehingga tergolongnya ia ke dalam puak muqarrabin (hampir kepada Allah) ataupun puasanya tertolak maka terkiralah ia ke dalam golongan orang yang terjauh dari rahmat Allah Ta’ala. Perasaan seumpama ini seharusnya sentiasa ada pada diri seseorang, setiap kali selesai melakukan sesuatu ibadat kepada Allah Ta’ala.


Blog EntryAug 22, '09 1:42 PM
for everyone
Assalaamu 'alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah. Di awal bulan Ramadlan 1430 H ini pesantren Attahdziby, Madiun telah dikaruniai bisa buka website baru di multiply.com sebagai penerus dari websitenya yang terdahulu, yakni http://suasana.multiply.com.
Semoga diberi banyak manfaat, bagi ummat Islam di mana saja berada.
Wassalam
Admin

Pages:12
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.